Teluk Lamong Urai Kepadatan Tanjung Perak

 

Teluk Lamong Urai Kepadatan Tanjung Perak

PT Pelindo III (Persero) menargetkan agar Terminal Teluk Lamong secepatnya beroperasi maksimal.. Pasalnya, sejauh ini arus barang yang melalui berbagai terminal di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya telah melebihi kapasitas batas maksimal yang dimiliki. Berdasarkan dari data PT Pelindo III, pada tahun 2013, realisasi arus petikemas di Tanjung Perak Surabaya sudah mencapai 2,9 juta Teus. Padahal, kapasitas Tanjung Perak Surabaya hanya mampu mencapai 2,7 juta Teus.

Kepala Humas PT Pelabuhan Indonesia III Edi Priyanto mengatakan, hingga akhir 2014 arus petikemas yang masuk melalui Tanjung Perak tengah diprediksi mencapai 3,2 juta Teus. “Tidak hanya arus petikemas, arus curah kering dan pergerakan kapal juga sudah tidak memadahi lagi,” ujarnya di Surabaya, Rabu (17/12/2014).

Menurutnya, hingga akhir 2014, perkiraan curah kering yang masuk melalui Tanjung Perak mencapai 7,7 juta ton. Sementara, kapasitas untuk bongkar muat curah kering di Tanjung Perak Surabaya hanya ada dikisaran 6,7 juta ton.

Edi menjelaskan, pergerakan kapal hingga akhir 2014 diperkirakan mencapai 43.000 gerakan kapal dari kapasitas tersebut sebesar 27.000 gerakan. “Jadi, sebenarnya Teluk Lamong ini sebagai pengurai kepadatan arus di Tanjung Perak. Karena bagaimana pun juga, Tanjung Perak ini menjadi pintu masuk utama logistik ke area Indonesia Timur, tidak hanya untuk Jawa Timur saja,” tutur dia.

Dengan beroperasinya Terminal Teluk Lamong, Pelindo III, katanya, diharapkan akan mampu meningkatkan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sebagai salah satu pelabuhan utama yang menjadi urat nadi kelancaran arus logistik nasional. Dalam hitungannya, terangnya, jika Terminal Teluk Lamong bisa beroperasi penuh, maka kapasitas Tanjung Perak akan semakin besar, mencapai 4,3 juta Teus untuk petikemas dan 17 juta ton untuk curah kering.

Sementara itu, pada kuartal III Tahun 2014 Pelabuhan Tanjung Perak, arus peti kemas terealisasi 2,28 juta TEUs atau naik 3,7% jika dibanding dengan pada periode sama tahun sebelumnya berjumlah 2,2 juta TEUs.

Edi menjelaskan, untuk realisasi arus peti kemas juga dicatat dalam satuan boks. Pada sembilan bulan pertama pada tahun ini telah tercatat sebanyak 1,91 juta boks atau naik 4% dibanding periode sama pada tahun sebelumnya yakni berjumlah 1,83 juta boks. “Realisasi ini terdiri dari peti kemas internasional 985.053 TEUS atau sebesar 43% dari total arus petikemas atau setara 703.300 boks atau 37% dari total arus. Sedangkan sisanya dari arus domestik,” katanya.

Arus peti kemas tersebut, terangnya, berasal dari Terminal Petikemas yang dioperasikan oleh PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS), Terminal Berlian yang dilayani atau operasikan oleh PT Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI). Sementara, sisanya dari berbagai terminal di Pelabuhan Tanjung Perak. (wh)