Teluk Lamong Kembangkan Angkutan Petikemas Berbasis Moda Kereta Api

Teluk Lamong Kembangkan Angkutan Petikemas Berbasis Moda Kereta Api

Terminal Teluk Lamong (TTL) bersama dengan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan Terminal Petikemas Surabaya (TPS) yang berkonsep hijau pertama di Indonesia, siap mengembangkan angkutan petikemas dari pelabuhan yang berbasis moda kereta api.

Rencana itu ada dalam penandatanganan nota kesepahamanan (MoU) antara Terminal Teluk Lamong (anak usaha PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) dengan PT Krakatau Bandar Samudra (PT KBS), anak perusahaan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, di Surabaya, Jumat (8/4/2016) lalu.

“Kerjasama ini wujud dari Sinergi BUMN untuk negeri, agar Cost Logistic negeri ini menjadi lebih efisien. Kerjasama itu ditandatangani oleh Direktur Utama PT KBS, Tonno Sapoetro,“ ujar Direktur Utama TTL Prasetyadi, dalam rilisnya, Rabu (13/4/2016).

Dia menjelaskan, PT KBS mengelola Pelabuhan Cigading, Banten, dengan layanan curah (bulk) dan curah kering (dry bulk). PT KBS saat ini memiliki kapasitas curah kering yang cukup besar di Indonesia, sebesar 12 juta ton per tahun.

Prasetyadi menuturkan, proses pendistribusian barang melalui pelabuhan dengan koneksi jalur kereta api tersebut diharapkan dapat mendorong percepatan arus logistik di Indonesia, serta mampu mengurangi volume kepadatan di jalan raya.

“Inovasi yang dilakukan Pelindo III, melalui anak usahanya Terminal Teluk Lamong, guna mengurangi biaya logistik nasional akan berdampak positif untuk mendongkrak perekonomian bangsa,” katanya

Menurutnya, kecepatan waktu tempuh merupakan salah satu keuntungan menggunakan jalur kereta api. Apabila menggunakan truk dari Jakarta ke Surabaya, waktu yang dibutuhkan mencapai 48 jam per boks peti kemas. Jika menggunakan kereta api, hanya membutuhkan waktu kurang dari 18 jam serta dapat menampung hingga 60 boks peti kemas dalam satu rangkaian untuk sekali jalan.

Dia juga mengatakan, layanan angkutan kereta api yang akan dibuka oleh TTL ditujukan pada jalur double track dengan potensi perjalanan 15 trip per hari dan berkapasitas peti kemas lebih dari 500 TEUs (twenty foot equivalent units).

Adanya layanan angkutan logistik berbasis kereta api di Terminal Teluk Lamong tersebut meningkatkan kecepatan serta ketepatan pelayanan di terminal semi otomatis yang dikelola Pelindo III itu. Bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan Kereta Api Logistik (KALOG), serta beberapa pelabuhan besar di Indonesia lainnya.

“TTL diharapkan menjadi pemicu interkoneksi transportasi logistik dan pintu gerbang perkonomian untuk Jawa Timur serta Kawasan Timur Indonesia,” terangnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT KBS, Tonno Sapoetro menambahkan bahwa kerjasama yang terjalin tidak hanya untuk jangka pendek dan bermanfaat secara bisnis di antara keduanya, tetapi lebih pada tujuan besar yakni untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian Indonesia. “Kita bersepaham untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik, melalui perbaikan tata kelola logistik,“ ujarnya. (wh)