Tekan Biaya Operasional Pengusaha Pilih Internet

 

Tekan Biaya Operasional Pengusaha Pilih Internet

 

Untuk mengefisienkan biaya operasional banyak perusahaan memilih internet. Dengan memindahkan sejumlah aktivitas konvensional menggunakan internet, biaya operasional bisa dikurangi. Internet juga menjadi andalan perusahaan jasa untuk meningkatkan kinerja.

 

Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin menjelaskan, dari survei yang dilaksanakan pada Juli hingga Desember 2013, perhotelan menjadi sektor dengan share penggunaan internet terbesar. Sebanyak 71,06 persen hotel menggunakan internet. Survei dilaksanakan di 33 provinsi terhadap 1.123 responden.

 

Sektor industri pengolahan memiliki share 68,9 persen, sektor bisnis mencapai 66,73 persen, dan restoran atau rumah makan mencapai 57,77 persen.

 

”Secara nasional, persentase perusahaan yang menggunakan internet sudah mencapai 66,73 persen,” kata Suryamin.

 

Disparitas biaya berlangganan internet pada sektor bisnis merupakan yang paling kecil dibandingkan dengan sektor yang lain. Perusahaan yang menghabiskan biaya berlangganan internet di atas Rp 1 juta hanya 30,41 persen; Rp 500.000 hingga Rp 1 juta sebanyak 33,15 persen; dan biaya berlangganan di bawah Rp 500.000 sebanyak 36,44 persen.

 

Disparitas biaya berlangganan sektor restoran atau rumah makan cukup tinggi. Persentase restoran atau rumah makan yang memiliki biaya berlangganan internet di atas Rp 1 juta hanya 8,19 persen; biaya berlangganan antara Rp 500.000-Rp 1 juta sebanyak 36,84 persen; dan langganan di bawah Rp 500.000 mencapai 54,97 persen.

 

Meningkat

 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, internet kini menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat dunia termasuk untuk menekan biaya operasional, apalagi bagi mereka yang hidup di kota besar. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mengungkapkan kalau pengguna internet di Indonesia hingga akhir tahun 2013 mencapai 71,19 juta orang.

 

Jumlah ini tentu mengindikasikan pertumbuhan hingga 13 persen dibandingkan pada akhir tahun 2012 lalu yang mencapai 63 juta. Namun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di Indonesia, maka Sammy mengatakan kalau penetrasi internet di Indonesia sekitar 28 persen setiap tahunnya.

 

APJII menilai dengan hasil tersebut, maka langkah Indonesia untuk menyesuaikan tuntutan Millennium Development Growth (MDGs) yang juga disepakati International Telecom Union (ITU), bahwa pada tahun 2015 penduduk bumi sudah harus melek internet 50 persen belum tercapai.

 

Karena itulah Sammy menegaskan masih ada dua tahun lagi untuk mengejar ketertinggalan angka melek internet tersebut.

 

APJII akan melanjutkan kerja sama dengan BPS tahun ini, yaitu dalam hal survei penggunaan TIK sektor rumah tangga, lanjutan survei P2SKTI sektor bisnis, survei pengguna melalui internet anggota APJII, workshop ICT indeks, dan training terkait ICT dan statistik. (bh/berbagai sumber)