Tarif Jasa Angkut Pelabuhan Perak Naik 35 Persen

Tarif Jasa Angkut Pelabuhan Perak Naik 35 Persen
Truk berbahan bakar gas yang baru tiba di Teluk Lamong Juni silam, menjadi solusi untuk menggantikan truk berbahan bakar solar.

Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar Rp 2.000 untuk solar menjadi pemicu untuk menaikkan tarif jasa angkut di pelabuhan. Ketua Umum Angkutan Khusus Organda Tanjung Perak Kody Lamahayu menegaskan rencana tersebut akan dilakukan dalam waktu dekat.

Tarif Jasa Angkut Pelabuhan Perak Naik 35 Persen
Ketua Umum Angkutan Khusus Organda Tanjung Perak Kody Lamahayu.

Menurut pria kelahiran Poso, Sulawesi Tengah itu, besaran kenaikan diperkirakan 35 persen, seiring dengan naiknya harga solar perliter yang mencapai 36 persen. Besaran kenaikan 36 tersebut menurut Kody dianggap realistis lantaran jasa angkut tidak hanya tergntung solar, tetapi juga suku cadang dan biaya lain.

“Kita sudah lama tidak menaikkan tarif jasa angkut. Kenaikan ini disebabkan kenaikan BBM yang mencapai Rp 2.000,” tegas Kody. Kenaikan tarif terakhir terjadi pada 2013 dengan besaran 35 persen yang juga disebabkan kenaikan BBM pada masa pemerintah Soesilo Bambang Yudhoyono.

Saat ini operasional truck membutuhkan minimal 35 liter perharinya atau setara dengan Rp 192.500, dengan asumsi perliternya Rp 5.500. Dengan kenaikan solar yang mencapai Rp7.500, biaya operasional untuk beli solar saja mencapai Rp 262.500.

Pihak Organda secepatnya melakukan sosialisasi terhadap aossiasi terkait di Tanjung Perak. Seperti Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI), maupun Gabungan Importir Nasional Indonesia (GINSI). “Karena yang berdampak langsung adalah rekan-rekan pemilik barang yang tergabung dalam asosiasi,” lanjutnya.

Dampak dari kenaikan solar ini menyebabkan Organda mendesak pemerintah melakukan konversi dari BBM ke Bahan Bakar Gas (BBG). Sebab harga gas ditaksir lebih murah dibanding solar.

Untuk satu liter gas dikisaran Rp 3.100, sedangkan solar sudah Rp 7.500. Selain itu, gas jauh lebih irit dan emisi buang lebih ramah lingkungan dibanding solar. Ditambah lagi cadangan gas secara nasional masih lebih besar dibanding solar dan premium yang makin menyusut.

“Kalau pemerintah bersedia mengonversi dari BBM ke BBG, saya jamin tidak akan ada kenaikan tarif angkutan pelabuhan. Dan kami akan kami dorong untuk berinvestasi truck BBG,” tegasnya. Untuk investasi truck BBG cukup mahal dibanding truck berbahan bakar solar. Satu unitnya mencapai Rp1 miliar untuk head truck plus ekor ukuran 40 feet, sedangkan 20 feet Rp 800 juta. (wh)