Tarian Rampo Aceh Gelorakan Cross Culture Festival Surabaya

 

Tarian Rampo Aceh Gelorakan Cross Culture Festival Surabaya
Penampilan para penari dari Aceh yang ikut membuka Cross Culture Festival (CCF) 2014 Surabaya, Kamis (28/8/2014) malam.

Di antara 10 penampilan yang atraktif saat pembukaan Cross Culture Festival (CCF) 2014 Surabaya, terdapat satu penampilan yang paling menghibur penonton di Balai Budaya, Kamis (28/8/2014) malam. Sepuluh penari yang tergabung dalam tarian Rampo Aceh tampak rancak membuat takjub penonton.

Lampu warna-warni yang menyorot sepuluh perempuan cantik asal Aceh sembari terus mengikuti langkah kaki mereka. Dengan gerakan seragam, dan rancak mereka menyuguhkan tarian yang berbeda.

Tarian khas Aceh gabungan dari tarian tradisional Ratoh, tari Saman, Rateb, dan Likok Pulo itu tampak selaras dengan musik yang berdentang mengiringi kaki-kaki telanjang berirama.

Setelah berputar-putar mengelilingi panggung seluas 10 meter persegi itu tiba-tiba hening. Sepuluh perempuan itu lalu baris merapat. Tanganya erat mengepal lalu jarinya membuka dengan selaras gerakan membungkuk dan kemudian kembali berdiri.

Gerakan yang lambat seragam itu kemudian lama-kelamaan semakin cepat. Tangan-tangan yang mungil dari perempuan Aceh tampak satu komando menepuk pundak lalu paha, kemudian dada.

Terus seperti itu hingga menimbulkan efek suara yang seragam. Suaranya menggerutu di antara ruangan yang tiba-tiba hening lantaran penonton terkagum-kagum. Lima belas menit kemudian baru setelah tarian selesai penonton baru menyadari. Riuh tepuk tangan pun menyelimuti seluruh ruangan Balai Budaya Surabaya.

Tidak terkecuali Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini yang menyempatkan datang dalam pembukaan acara CCF 2014. Perempuan berjilbab dengan sanggul yang tinggi itu kemudian meneruskan tariannya.

Namun mereka mengambil tali yang panjang. Dengan gerakan seragam tangan naik-dan turun, ke kanan dan ke kiri membuat tarian tampak atraktif. Tidak diduga tali-tali itu kemudian berubah menjadi jaring nelayan Aceh.

Riuh penonton pun tak sempat berhenti menyambut atraksi yang apik itu. “Mereka dengan masih menyelaraskan gerakan ternyata bisa membuat jala ikan,” takjub salah satu penonton.

Dalam tarian tersebut, perempuan Aceh menggambarkan sebuah adat kuno asal Aceh tentang ritual sesaat sebelum suaminya pergi mencari ikan di laut. Di dalam kelompok tersebut ada yang berperan sebagai penari, syekh (pemimpin) dan sering juga didampingi oleh wakil syekh (wakil pemimpin). Hal ini mirip konsep imam dan amir dalam agama Islam. Syekh merupakan penentu gerakan penari yang serempak dan dinamis. (wh)