Tantangan Kemandirian Usaha di Era Disruption

Tantangan Kemandirian Usaha di Era Disruption

Kresnayana Yahya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Menghadapi era disruption, pelaku bisnis harus benar-benar memikirkan fundamen ekonomi. Pelaku bisnis juga harus bisa melakukan pekerjaan sendiri, tidak bergantung orang lain.

“Artinya, kita harus dapat lebih mandiri. Jika saat ini bisnis terpuruk, jelas ada sesuatu yang salah dalam diri Anda. Untuk mengubahnya Anda harus mulai mengoreksi pribadi Anda. Salah satunya ya dengan cara do it yourself,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (30/8/2019).

Dengan cara do it yourself, terang Kresnayana, pelaku bisnis dapat meningkatkan kemandirian, membentuk karakter dan mentalitas menjadi kuat. Selain itu, butuh vocational maturity (kematangan vokasional), dimana memiliki kemampuan memilih pekerjaan yang sesuai kemampuan, minat dan preferensi dapat lebih terasah.  “Sehingga jika ada masalah, kita dapat pecahkan dengan cepat. Tidak perlu menunggu pertolongan orang lain,” tegas pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Kata Kresnayana, jika pelaku bisnis dapat secara mandiri mampu mengembangkan vocational maturity, para pekerja yang di bawahnya mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri.

“Penduduk kita itu 260 juta. Jika sebagian besar dari mereka ini punya perilaku sadar akan kebersihan lingkungan contohnya, para petugas kebersihan angkanya makin berkurang. Mereka mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya menjadi lebih baik lagi,” papar Kresnayana.

Untuk mengembangkan bisnis, imbuh dosen statistika ITS itu, vocational maturity ini menjadi penting. Jika seseorang dapat dengan mandiri mengembangkan usahanya tentu akan menekan biaya operasional.

“Jika hal itu terjadi, kita dapat mengalihkan sumber daya biaya itu untuk mengembangkan hal lain. Salah satunya kita dapat lebih kreatif dan leluasa mengembangkan bisnis kita,” kupas dia.

Kresnayana mengatakan, saat ini tingkat digital maturity (kematangan digitai) masyarakat Indonesia telah maksimal. Namun, hal itu tidak diimbangi tingkat natural maturity yang tinggi juga. Padahal, kedua hal tersebut dapat saling terhubung satu dengan yang lain.

Saat ini, sebut dia masyarakat makin sadar akan pentingnya pemanfaatan teknologi. Namun di sisi lain banyak masyarakat yang belum memaksimalkan natural maturity (kematangan alamiah).

“Contohnya, untuk membuat jok mobil, kita masih terpaku dengan bahan-bahan plastik sebagai bahan dasar. Padahal kita diperkenalkan bahan yang lebih ramah lingkungan yang diolah dari tumbuhan. Nah, beberapa hal inilah yang bisa kita lakukan ke depan supaya usaha kita makin berkembang dan kuat,” pungkas Kresnayana. (wh)