Tanjung Perak Direkonfigurasi

Tanjung Perak Direkonfigurasi

Tingginya komoditi di Pelabuhan Tanjung Perak mendorong PT Pelabuhan Indonesia III melakukan penataan ulang di sejumlah terminal guna mendorong produktivitas. Berdasarkan data tahun 2012, kapasitas terpasang tak sanggup menampung komoditi yang masuk.

Pada awal semester kedua tahun 2013 silam PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III melakukan klasterisasi. Tetapi pada tahun 2014 ini nantinya akan dilakukan rekonfigurasi atau penataan terminal berdasarkan komoditi.

Kepala Humas Pelindo III Edi Priyanto menyatakan, rekonfigurasi ini berbeda dengan klasterisasi. “Konfigurasi ini sudah menyangkut klasterisasi, yakni menata ulang terminal berdasarkan komoditi,” jelasnya, Minggu (5/1/2014).

Dia tidak menampik memang tidak jauh berbeda program rekonfigurasi dengan klasterisasi. Tetapi rekonfigurasi ini intinya lebih tegas dan lebih menyeluruh. “Saat ini sedang disusun, dan nantinya akan kita implementasikan diawal tahun ini,” lanjutnya.

Konfigurasi ini menyangkut komoditi yang ada di empat terimnal di Tanjung Perak. Seperti revitasliasi Terminal Jamrud dengan menguatkan dermaga, pembangunan Harbor Mobile Crtane (HMC) pad, merobohkan gudang, dan penambahan HMC.

Sedang juga untuk terminal Nilam dilakukan pembangunan terminal curah cair, yang mampu menampung 4,2 juta kilo liter pertahunnya. Rekonfigurasi ini juga dilakukan di Pelabuhan Gresik yang memiliki hinterland dengan Tanjung Perak.  Pelabuhan Gresik dilakukan pembangunan curah cair, pelabuhan rakyat, dan terminal mineral seperti batubara, pasir, biji besi, dan kayu.

Edi priyanto menegaskan konfigurasi ini tidak bisa dilakukan dalam satu tahun. “Ini memang multiyears, dan untuk pelaksanaannya butuh waktu panjang. Masalahnya implementasi ini sudah menyangkut klasterisasi,” ungkapnya.

Untuk klasterisasi sendiri lebih mengelompoikkan komoditi sesuai dengan daya tampung terminal. Seperti general cargo domestik-internasional dan curah kering domestik mapun internasional akan ditempatkan di Jamrud.

Untuk petikemas domestik akan dilayani di Berlian, sedangkan curah cair akan dilayani di Nilam. Petikemas domestik yang ada di Mirah akan digeser ke Teluk Lamong atau Berlian. Ke depan Mirah untuk melayani kapal yang lebih kecil, sesuai dengan kedalaman terminal.

“Konfigurasi ini juga melakukan penataan mengurai kemacetan didalam terminal,” tutup pria kelahiran Klaten Jawa Tengah itu. (wh)