Tambah Pabrik, Nike Tanam USD 60 Juta di Indonesia  

Menperin Resmikan Pabrik Sepatu Nike di Indonesia
sumber foto: detik

Produsen sepatu merk Nike PT Adis Dimension Footwear melakukan ekspansi produksi ke Majalengka, Jawa Barat dengan investasi USD 50-60 juta. “Investasi kami di sana sebesar US$ 50-60 juta. Saat ini sudah sampai tahap persiapan memulai produksi,” papar pemilik Adis Dimension, Harijanto saat menerima kunjungan Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin di pabrik Balaraja, Tangerang, Banten, Jumat (31/7/2015).

Perusahaan menargetkan, beroperasinya pabrik Nike  di Majalengka dan pabrik existing di Balaraja, Tangerang menggenapi kapasitas produksi hingga 27 juta pasang sepatu per tahun.

Seluruh produksi Nike dikapalkan ke luar negeri dengan komposisi Eropa 40 persen, Amerika Serikat (AS) dan Asia masing-masing 30 persen. Ke depan, perseroan mengincar peningkatan volume ekspor ke Asia terutama Tiongkok. “Fokus persaingan bisnis industri alas kaki di Indonesia sudah ke luar negeri, yaitu bersaing dengan Tiongkok dan Vietnam,” lanjut Harijanto.

Menperin Saleh Husin menilai beroperasinya Adis hingga seperempat abad dan ekspansi pabrik Nike menunjukkan Indonesia tetap prospektif di industri alas kaki. “Ekspansi juga berarti penciptaan lapangan kerja, meningkatnya volume ekspor dan pendapatan devisa,” ujar Menperin.

Saat ini jumlah karyawan Adis mencapai 8.456 orang. Perseroan juga berkomitmen meningkatkan penggunaan bahan baku lokal yang saat ini sebesar 50 persen.

Menperin mengatakan, industri alas kaki didorong untuk memperluas pasar dan volume ekspor guna memperkuat pangsa pasar Indonesia di ranah global. Selain itu, penggunaan bahan baku lokal ditingkatkan guna menghasilkan nilai tambah dan devisa. Dorongan itu seiring kinerja ekspor industri alas kaki juga terus membaik. Pada tahun 2014 nilai ekspor produksi alas kaki nasional mencapai USD 4,11 miliar atau naik sebesar 6,44 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sedangkan negara tujuan ekspor utama produk alas kaki Indonesia, di antaranya adalah AS, Belgia, Jerman, Inggris dan Jepang. “Kualitas produksi kita mampu bersaing. Produsen juga melakukan investasi di research and development, selain investasi produksi,” sebut Menperin. (bst)