Taman Kota Surabaya Menggoda Investasi

Taman Kota Surabaya Menggoda Investasi

 

Selain menjadi paru-paru kota dan tempat cuci mata, taman kota yang indah tentu bisa membuat investasi tumbuh subur.

Chairperson Enciety Business Consult, Kresnayana Yahya mengatakan, taman yang cantik bisa membuat kota menjadi jujugan investasi. “Dengan manajemen kota yang baik dan adanya taman, suatu kota bisa lebih cultural. Ini menarik buat para investor. Ibaratnya, produk paling gampang dijual untuk memancing investor itu ya, taman,” ujarnya, Jumat (21/3/2014).

Kresna melanjutkan, masyarakat urban amat membutuhkan ruang apresiasi, tempat berekspresi, rekreasi, dan entertainment untuk melakukan relaksasi. “Dan ini ada aspek bisnisnya. Orang sekarang kan, butuh tempat untuk refreshing,” tukasnya.

Terlebih lagi jika nanti makin banyak orang yang tinggal di apartemen dan semakin sibuk. Maka, pasti memerlukan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan taman.

Produk-produk yang sejalan dengan karakter kota, akan masuk. “Misalnya green product itu akan masuk. Karena mereka melihat Surabaya sudah peduli lingkungan dan jelas sustainable bisnisnya,” tambahnya.

Berikutnya, Surabaya perlu lebih kreatif menata taman-taman kotanya. Kresna lantas mencontohkan, beberapa kota besar dunia yang concern mengembangkan bisnis berbasis taman kota.

“Universitas di Singapura yang punya jurusan Biologi digerakkan untuk mengembangbiakkan burung-burung. Nah, sementara tugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan setiap hari yang ngasih makan burung-burung yang singgah ke sana. Ini bisa jadi wisata dan bisnis,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah yang suportif menggerakkan warga yang miskin dinilainya lebih efektif dibandingkan memberikan uang. Kresna mengisahkan pengalamannya saat berada di Costa Rica selama 3 minggu. Ia menceritakan, bagaimana upaya pemerintahnya dalam mengentaskan kemiskinan melalui gerakan cinta lingkungan, sekaligus agribisnis.

“Di Costa Rica, pemerintah berikan suplai tanaman jenis tertentu ke masyarakat. Ada buah-buahan, ada pinus. Mereka disuruh mengembangbiakkan. Dari hasil penanaman itu, lalu diekspor ke Jepang, ditaruh polybag,” ujarnya. Peran aktif masyarakat dan dukungan inovatif dari pemerintah, kelak bisa membuahkan hasil.

Ia mengusulkan, bila tanaman obat keluarga alias toga dijadikan sebagai tema taman berikutnya. “Kalau bisa ada taman mpon-mpon. Ada jahe, kunci, kencur, laos, temulawak. Minimal biar bisa menjadi tempat pembelajaran dan masyarakat boleh mengambil bibitnya untuk ditanam di rumah. Ini nanti bisa jadi sebuah gerakan yang bernilai bisnis,” tandasnya.(wh)