Tak Layak, 72,97 Persen Kualitas Air KBS Buruk

Tak Layak, 72,97 Persen Kualitas Air KBS Buruk
Para peserta seminar Bersama Membangun Kejayaan KBS diajak berkunjung langsung ke KBS.

 

Kondisi Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang sesungguhnya dipaparkan blak-blakan di Graha Sawunggaling, Rabu (26/3/2014). Dalam seminar Bersama Membangun Untuk Kejayaan KBS tersebut, tim auditor independen dari Universitas Airlangga memaparkan hasil kajian tentang keadaan KBS secara menyeluruh.

Perwakilan tim auditor, drh Wiwiek Tyasningsih, mengungkapkan pihaknya mengobservasi sedikitnya dua aspek, yakni aspek lingkungan dan satwa. Dari kedua aspek tersebut, status kondisi KBS yang baru dikelola Pemkot Surabaya per Juli 2013 itu tergolong sedang. Namun, tim auditor memberikan banyak catatan kritis, mulai kualitas udara, air, pakan, kandang, hingga pemeliharaan satwa.

“Dari 37 sumber air bersih di KBS, bau, kekeruhan, rasa, dan suhu lapangan semuanya masih di bawah batas maksimum yang diperbolehkan menurut Permenkes RI nomor 416/Menkes/Per/IX/90. Tapi, jika ditinjau secara mikrobiologis, 72,97 persen tidak memenuhi syarat,” jelasnya. Wiwiek merinci, hanya 10 titik saja yang dinyatakan baik.

Tim juga menemukan pengelolaan sampah masih buruk. Karena, sampah pengunjung dan kotoran hewan tidak dipilah. Pakan satwa pun belum dikelola dengan baik. Saat diobervasi, pakan berupa buah-buahan ditaruh begitu saja tanpa ada upaya menjaga kesegaran pakan. Cold storage untuk menjaga kesegaran daging satwa karnivora justru rusak, bahkan bangkainya terbengkalai begitu saja. “Tapi beberapa waktu yang lalu kami pantau lagi, sudah ada pembenahan. Kuaitas buah-buahan yang dipilih jauh lebih baik. Tempatnya juga ditata bersih,” imbuhnya.

Pengelolaan satwa tak luput dari perhatian. Dengan satwa yang mencapai 297 spesies, KBS ternyata belum memiliki rumah sakit satwa. “Yang sekarang dimiliki oleh KBS itu lebih pantas disebut klinik, bukan rumah sakit,” cetusnya. Selain tak memiliki peralatan yang mumpuni untuk menangani berbagai penyakit satwa. peralatan juga banyak yang telah rusak. Contohnya restrain fisik. “Di KBS ada, tapi rusak. Ini kan, seharusnya tidak boleh,” katanya.

Yang mengkhawatirkan, KBS tak punya studbook atau buku pembiakan. Padahal buku pembiakan diperlukan untuk mengatur dan menandai silsilah satwa agar tak terjadi inbreeding atau perkawinan sekerabat. Sistem rekam medis satwa juga tak ada. “Rekam medis satwa itu justru membantu mengidentifikasi penyebab kematian satwa,” tuturnya.

Wiwiek lantas menjelaskan beberapa rekomendasi. Dari aspek lingkungan, tim auditor menyarankan perbaikan konstruksi bangunan, saluran air, memfungsikan kembali bangunan yang tampak tak berfungsi. Kemudian pengadaan composting dan pengolahan (desinfeksi) air bersih.

“Untuk aspek satwa, setidaknya harus memenuhi prinsip dasar pemeliharaan satwa liar. Di antaranya perbaikan kandang dan sanitasi, nutrisi, breeding, dan fasilitas yang terkait karantina, isolasi, dan rumah sakit hewan.” pungkasnya.(wh)