Tak Lagi Manis, Bisnis Teh Ditinggalkan

Tak Lagi Manis, Bisnis Teh Ditinggalkan

 

 

Bisnis teh kini tak lagi menarik.  Dari tahun ke tahun, prospek bisnis di bidang ini terus alami penurunan.  Akibatnya, kini banyak perkebunan teh yang beralih fungsi. Terutama  perkebunan rakyat yang kini mulai beralih ke tanaman lain yang harganya lebih bagus.

 

“Perkebunan teh sudah terlalu lama tidak diperbaiki. Akibatnya sudah 20 tahun bisnis teh kurang kondusif karena harganya jatuh, terutama untuk perkebunan teh rakyat,” kata Direktur Dewan Teh Indonesia, Sultoni Arifin, Rabu (15/1/2014).

 

Tak hanya  itu, mutu teh domestik pun ikutan tergerus. Pasalnya, pengelolaan yang dilakukan juga masih pakai sistem konvensional. “Pengolahan teh yang ada juga masih konvensional. Padahal jaman sudah banyak berubah, teknologi bisa digunakan untuk menggenjot produksi. Harus ada perbaikan on farm di kebun, perlu intensifikasi juga dan peremajaan kebun teh,” ujarnya.

 

Penurunan lahan perkebunan teh di Indonesia semakin serius.  Data yang dirilis Kementerian Pertanian, dalam 10 tahun terakhir, lahan teh nasional hanya tersisa 120.000 hektar.  Kondisi ini memaksa terjadinya ketimpangan antara produksi dan permintaan pasar teh nasional.  Produksi teh 150.000 ton per tahun teh kering dengan ekspor 80.000 ton.  Impor teh 20.000 ton dan terus meningkat setiap tahun.

 

Kementerian Pertanian kini mulai menanggapi serius penurunan areal lahan teh dengan meningkatkan anggaran pengembangan bisnis teh nasional dari semula hanya Rp 5 miliar per tahun menjadi Rp 48 miliar. (ram)