Tak Ingin Kecolongan, Pemkot Surabaya Bekali PNS Hukum Pertanahan

Ribuan Pelamar Ikuti Tes Masuk Accor Group
Para 29 lurah dan PNS Pemkot Surabaya saat melakukan Diklat Hukum Pertanahan dan Hukum Bisnis mengantisipasi sengketa tanah, Selasa (28/10/2014).

Masalah sengketa tanah menjadi momok menakutkan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS), khususnya bagi aparatur kelurahan di Surabaya. Tak jarang lurah harus berurusan dengan hukum lantaran tersandung masalah administrasi pertanahan.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggandeng Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menyelenggarakan diklat hukum pertanahan.

“Dengan demikian, para lurah mampu menyelesaikan masalah, kasus, perkara, dan sengketa tanah di wilayahnya sehingga dapat mewujudkan jaminan kepastian hukum,” terang Kepala Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD) Surabaya Mia Santi Dewi kepada wartawan, Selasa (28/10/2014).

Dikatakan oleh Mia, sedikitnya terdapat 29 lurah dan sejumlah pegawai di Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah (DPBT), dan Bagian Pemerintahan dan Otonomi Daerah berkesempatan mengikuti diklat tersebut. Harapannya, para peserta diklat dapat memahami secara benar tentang hukum pertanahan dan tertib administrasi pertanahan.

Tak hanya itu, pemkot juga membekali PNS-nya dengan ilmu hukum bisnis. Namun sasarannya 30 orang dari beberapa dinas seperti dinas perdagangan dan perindustrian, dinas tenaga kerja, dinas koperasi dan UMKM dan sebagainya.

Mia mengatakan, diklat hukum bisnis dimaksudkan untuk mempersiapkan aparatur pemerintahan dalam menyongsong era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Ini ditekankan oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini bahwa pegawai pemkot perlu dibekali hukum bisnis untuk memandu masyarakat pada era MEA 2015.

Sebab, dia memprediksi, ke depan modus penipuan juga bakal berkembang. “Nah, supaya masyarakat tidak tertipu saat berbisnis, kami wajib memberikan panduan informasi,” waspadanya.

Pemkot berencana membuat semacam klinik konsultasi yang tersebar di tiap-tiap kecamatan. Nantinya, warga tak perlu jauh-jauh datang ke dinas terkait, melainkan cukup ke kantor kecamatan saja untuk mendapatkan layanan konsultasi bisnis yang aman.

Terkait diklat pertanahan, Kabag Humas Muhammad Fikser mengatakan bahwa diklat itu memang dibutuhkan para lurah. Sebagai mantan Camat Sukolilo, Fikser tahu betul permasalahan yang dihadapi para lurah. Menurut dia, ada dua macam kesalahan terkait sengketa tanah. Yang pertama, lurah-nya memang ‘nakal’ dan melakukan rekayasa terkait luasan tanah.

Sedangkan yang kedua yakni tipe lurah yang sejatinya tidak berniat melakukan bentuk kecurangan apa pun. Namun, karena kurangnya pemahaman akan hukum sengketa tanah, akhirnya yang bersangkutan harus berurusan dengan hukum akibat kesalahan administrasi.

“Padahal, awalnya tidak ada niatan untuk itu (melakukan rekayasa),” ujarnya. Oleh karenanya, dia berharap lurah dapat memanfaatkan diklat ini untuk menambah pemahaman agar tidak terjerat kasus hukum. Pasalnya, sambung dia, setiap surat yang dikeluarkan oleh lurah selalu rawan dipermasalahkan secara hukum.(wh)