Tahun ini, Perhutani Target Pendapatan Rp 4,6 T

Tahun ini, Perhutani Target Pendapatan Rp 4,6 T

 

Perum Perhutani  mematok pendapatan sebesar Rp Rp 4,603 triliun untuk tahun 2014.  Dari pendapatan tersebut, diharapkan laba bersih yang tercetak mencapai 287 miliar atau naik 140 persen dari perolehan pada 2013 lalu.

Direktur Utama Perum Perhutani, Bambang Sukmananto, Selasa (1/4/2014), mengatakan, untuk memenuhi target tersebut, kontribusi pendapatan dari sektor usaha non-kayu terus ditingkatkan dari pada kayu.

“Untuk itu, selain mendidik SDM yang andal di bidang bisnis, struktur organisasi baru yang dengan tegas memisahkan pengelolaan sumberdaya hutan sebagai backbone perusahaan dan pengelolaan bisnis komersial akan berdampak pada tujuan bisnis yang lebih fokus pada proses pelayanan kepada pelanggan lebih cepat dan lebih baik,” ujar Bambang.

Dia lalu mengatakan, di usia lebih setengah abad, banyak hal yang telah dicapai terutama sejak tahun 2008. Perhutani telah melaksanakan transformasi perusahaan, dengan roadmap, target, dan program yang jelas dan terukur.

“Target utama transformasi era pertama yaitu penataan bisnis dan proses inti, yang berlangsung dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2014 telah dilaksanakan sesuai rencana,” paparnya.

Hal mendasar yang sudah dilaksanakan adalah,  Pertama, peningkatan potensi sumberdaya hutan melalui penanaman bibit unggul Jati Plus Perhutani (JPP) dengan silvikultur intensif, pengembangan tanaman pinus bocor getah, pengembangan tanaman karet dengan sistem agroforestry di Divisi Regional Jawa Barat dan Banten.

Kedua, revitalisasi industri produk kayu dan non kayu yaitu dengan meningkatkan kapasitas pabrik industri kayu dan non kayu yang sudah ada, pembangunan industri baru pabrik derivatif gondorukem di Pemalang Jawa Tengah, pabrik plywood di Kediri dan pabrik penepungan porang di Pare.

Hal lain yang telah dicapai yakni pembangunan industri sagu di Sorong, Papua yang sudah mulai penyelesaian lapangannya. Industri sagu ini dalam rangka mendukung agenda ketahanan pangan nasional, yaitu dengan membangun pabrik sagu di Sorong Selatan, Papua dengan kapasitas mencapai 30 ribu ton per tahun, dengan investasi diperkirakan mencapai Rp 80 miliar.

Perhutani juga akan menerapkan manajemen SDM berbasis kompetensi terhitung 1 April 2013. Sistem ini diterapkan, disertai penerapan pembayaran gaji secara online. Perhutani juga telah meningkatkan gaji karyawan, dengan proporsi terbesar karyawan Asper/Kepala Bagian Pemangkuan Hutan (KBKPH) ke bawah dengan kenaikan lebih dari 15 persen.

Perhutani juga telah melakukan restrukturisasi organisasi dengan memisahkan kegiatan hulu berupa pengelolaan sumberdaya hutan dan kegiatan hilir berupa industrialisasi dan pemasaran produk. Selain itu, Perhutani telah meningkatkan status karyawan secara bertahap sebanyak 400 orang tahun 2011, 1600 orang tahun 2012, 1600 orang tahun 2013 dan terakhir 2014 sebanyak 3000 orang. (ram)