Tahun Ini, Pasar Mobil Nasional Diprediksi Turun

Pasar Otomotif Indonesia Tak Bergairah

Pasar mobil diproyeksi turun kurang dari 10 persen menjadi 1,1 juta unit sampai akhir tahun ini, menyusul pertumbuhan ekonomi yang cenderung melambat. “Kami hampir final menghitung prediksi pasar. Ada indikasi (penjualan) akan turun,” kata Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Rahmat Samulo.

Toyota sebagai pemimpin pasar otomotif di Indonesia, memperkirakan pasar mobil akan  alami  penurunan penjualan secara nasional kurang dari 10 persen. “Bila tahun lalu (penjualan mobil secara nasional) 1,2 juta unit, maka tahun ini (turun) ke arah 1,1 juta unit,” ujar Samulo. Indikator penurunan tersebut, menurut dia, terlihat dari kondisi pasar Januari-Pebruari yang di bawah estimasi.

Selain itu, lanjut dia, anggaran dari pemerintah belum turun untuk menstimulasi kegiatan ekonomi. Ditambah lagi, nilai tukar rupiah yang masih bertengger pada angka di atas Rp12.000 per dolar AS, kemudian harga komoditas pertambangan dan perkebunan pun cenderung turun. “Kondisi itu membuat kalangan swasta tidak mau gegabah melakukan pembelian (mobil), masyarakat pun ‘wait and see’ untuk membeli. Ini yang membuat pasar mobil nasional lesu,” kata Samulo.

Kendati demikian, ia melihat ada titik cerah ketika penyaluran anggaran pemerintah mulai menunjukkan kenaikan sejak Maret dan April, yang diharapkan bisa mendongkrak penjualan mobil pada semester kedua tahun ini. “Sejak Maret pengeluaran pemerintah terus meningkat, Rp80 triliun per bulan. Kita berharap ini akan membuat pasar mobil kembali bergairah, ” katanya.

Kalau pengeluaran pemerintah terus meningkat, ia optimistis pada semester kedua akan ada kenaikan penjualan, meskipun belum menutupi penurunan pasar mobil pada triwulan pertama. “Toyota sendiri tetap memproyeksikan pangsa pasar 32,5 persen seperti tahun lalu,” ujar Samulo. Oleh karena itu, diakuinya, bila pasar mobil secara nasional turun, maka penjualan Toyota juga akan turun. (bst)