Tahun Depan, Peritel Online Rambah Offline

Tahun Depan, Peritel Online Rambah Offline

Meningkatnya tren berbelanja online di Indonesia membuat peritel online (e-commerce) juga akan merambah di dunia offline. Hal ini berguna untuk mengakuisisi customer yang sebelumnya tidak terekspos di online.

“Belanja online kan sudah nyaman, hanya masih ada beberapa customer yang belum tersentuh di online makanya tahun depan akan ada online to offline,” ungkap pelaku e-commerce dari Erafone, Rizki Suluh Adi,.

Menurut Rizki, bukan hanya online saja yang nantinya ke pasar offline, namun hal sebaliknya juga berlaku. Sebab, peritel offline melihat dunia online mulai digemari para customer. “Peritel yang melihat serunya dunia online juga akan beralih ke online, jadi nanti keduanya bertemu di tengah-tengah,” kata dia.

Menurut Rizki, masih banyak masyarakat yang lebih mempercayai peritel offline. Itu adalah alasan yang membuat e-commerce harus masuk ke pasar offline.

Sehingga, jika e-commerce telah dipercayai oleh masyarakat melalui pasar offline-nya, kemungkinan besar masyarakat akan beralih pada e-coomerce. Hal inilah yang juga dilihat oleh pelaku pasar offline.

Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyatakan pertumbuhan usaha ritel sepanjang 2014 mengalami perlambatan yang cukup signifikan. Wakil Sekjen Aprindo, Satria Hamid mengatakan, kumpulan pelaku usaha ritel ini awalnya menargetkan pertumbuhan di 2014 sebesar 15 persen dengan pendapatan Rp 175 triliun.

“Target itu berpeluang melesat, taksirannya hanya tumbuh 10 persen atau di Rp 168 triliun,” kata Satria.

Satria menuturkan, salah satu dampak perlambatan pertumbuhan usaha ritel ini disebabkan keadaan makro ekonomi dan juga pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). “Sehingga daya beli belum juga berangsur membaik dan kenaikan BBM, listrik, UMP maka tahun depan target kami konservatif sekali dan realistis pertumbuhan bisa mencapai 10 persen saja sudah bagus untuk di 2015,” tambahnya.

Lanjut Satria, kebijakan pemerintah yang masih belum bisa dikatakan menguntungkan para pelaku usaha ritel juga membuat target pertumbuhan ritel melenceng dari target yang sudah ditetapkan. “Kebijakan pemerintah yang mempengaruhinya seperti kenaikan BBM, naiknya TDL, UMP yang harus selalu naik, pelemahan nilai tukar rupiah, biaya distribusi yang tinggi,” tambahnya.

Oleh karena itu, Satria menuturkan Aprindo berharap regulasi pemerintah di 2015 mampu berpihak dan mendukung para pelaku usaha, sehingga inflasi dan daya beli lebih membaik. (oke/ram)