Tahun Depan, Impor Minyak Bakal Capai 1,7 juta Barel/Hari

Tahun Depan, Impor Minyak Bakal  Capai 1,7 juta Barel/Hari

Ketergantungan Indonesia pada  minyak bakal semakin tinggi. Tahun depan, Indonesia bakal mengimpor 1,7 juta barel minyak dalam sehari.  Angka  ini naik dari proyeksi  tahun ini sebesar 1,62 juta barel per hari (bph).  Kenaikan impor ini sebagai dampak dari terus meningkatnya konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di Tanah Air.

Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo mengatakan, kenaikan konsumsi BBM  nasional seiring dengan terus meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun ke tahun. “Indonesia butuh energi untuk menopang pertumbuhan ekonomi tahun depan,” kata Susilo saat menghadiri pameran  pameran IPA ke 38 di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta, Kamis (22/5/2014).

Angka impor BBM tahun depan bisa ditekan jika kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) sanggup mendongkrak produksi minyak. Namun jika gagal, Indonesia impor 1,7 juta barel per hari tidak dapat dihindari.  Pasalnya, produksi minyak yang mampu diproduksi hanya 600 ribu bph. Untuk itu, para kontraktor minyak didesak untuk terus mencari cadangan baru agar produksi bisa ditingkatkan.  “Mencari cadangan baru itu pekerjaan mudah, tapi tantangannya berat,” pungkasnya

Sampai saat ini, pemerintah menunggu aturan perpanjangan kontrak blok minyak dan gas (migas) yang matang untuk memperpanjang kontrak 20 blok migas yang akan habis masa kontraknya.

Susilo Siswoutomo mengatakan, masih ada waktu untuk memperpanjang 20 blok yang akan habis masanya. Ia meminta agar para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang mengelola 20 blok migas menunggu keputusan pemerintah. “Tunggu saja. Kan aturan itu belum selesai. Yang paling penting, ini kontrak yang expired bukan di 2014,” kata Susilo.

Susilo mengungkapkan, saat ini pemerintah masih menggodok regulasi perpanjangan kontrak blok migas yang hampir habis. Oleh karena itu, perpanjangan blok masih menunggu regulasi tersebut matang. “Kan sudah dibilang regulasi tersebut masih digodok,” ujar Susilo.

Indonesian petroleum Association (IPA)  menyebutkan, ada 20 kontrak perusahaan migas  yang akan habis masa kontraknya. Hal ini membuat kehilangan produksi minyak 635 ribu barel per hari (bph).

Presiden Indonesia Petroleum Assosiation (IPA), Lukman Mahfoedz mengatakan, tantangan industri hulu minyak sangat berat ke depannya, salah satunya tantangan adalah ketidak jelasan regulasi perpanjangan kontrak. “Tantangan berada di ranah hukum dan regulasi, investasi migas padat modal,” pungkas Lukman. (lp6/ram)