Tabrakan, Kapal Journey Karam di Tanjung Perak

Tabrakan, Kapal Journey Karam di Tanjung Perak

 

Kapal Motor (KM) Journey milik PT Mentari Sejati Perkasa karam di buoy 10 Pelabuhan Tanjung Perak, Selasa (1/4/2014). Kapal tersebut bermuatan consumer goods dalam 133 TEU’s petikemas.

Kapal ini tenggelam setelah bersenggolan dengan kapal Kapal Motor Penumpang (KMP) Lambelu milik PT Pelni yang sedang post stay atau lego jangkar. Tabrakan itu terjadi pada pukul 02.25 Selasa dinihari, dan kapal tenggelam sekitar pukul 03.30 dinihari.

Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak Chriswanda menjelaskan, tabrakan masih dalam tahap penyidikan. “Kami belum bisa menyimpilkan, karena semua kru dari kapal KM.Journey sedang kita periksa,” kata pria kelahiran Papua itu.

Berdasarkan manifest yang diterima enciety.co, KM Journey berangkat sekitar pukul 02.00 dinihari. Memasuki buoy 10, kapal bersenggolan dengan bullbush KMP Lambelu dan menyebabkan lambung kanan KM Journey robek, akibat tertabrak bullbos KMP Lambelu.

Dalam hitungan menit air masuk melalui lambung kapal dan menyebabkan 44 petikemas berserakan di perairan Tanjung Perak. Informasi internal Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak, kapten kapal berusaha membawa kapal keluar alur, guna menuju daratan.

Dalam tempo 1,5 jam kapal betul-betul tenggelam. Sedangkan 44 petikemas yang terapung menjadi jarahan warga. “Saat ini kami sedang koordinasi dengan pemilik kapal, untuk mengamankan muatan agar tidak semakin dijarah,” ungkap Chriswanda.

Pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan dari semua pihak. Sebab tenggelamnya kapal memunculkana spekulasi, murni kesalahan operasional atau kesalahan sistem operasi. Keterangan yang dikumpulkan diantaranya dari kru KM Journey dan dari Kapal Pandu.

Keterangan yang diberikan kapten kapal yang kerap berubah-ubah membingunkan penyidikan. Chriswanda menerima laporan bila kapal karam mendekati pulau Madura. Tetapi dalam tempo beberapa menit, keterangan berubah lagi, dimana posisi kapal karam berdekatan dengan Teluk Lamong.

Hal ini yang menyebabkan Chriswanda jengkel dengan keterangan kapten kapal. Dia juga menghardik Mualim I, Akbar Nadhim yang usianya lebih muda. Sementara Akbar sendiri adalah alumnus PIP (Politeknik Ilmu Pelayaran) Semarang tetapi gagal menangani kapal distress (situasi bahaya).

“Kamu itu lulusan PIP. Seorang taruna dan calon perwira. Kenapa kamu tidak memberi masukan kepada kapten kapal. Harusnya kamu tahu kapan saatnya bergerak, kapan waktunya meminta bantuan, dan bagaimana sikap ketika bantuan belum datang,” hardik Chriswanda.(wh)