Susu Impor Akan Ditekan Sampai 50 Persen

 

Susu Impor Akan Ditekan Sampai 50  Persen

Ketergantungan  pasokan susu dari luar akan terus  ditekan. Pemerintah bertekad akan menekan impor susu sampai pada angka 50 persen. Saat ini, kebutuhan impor itu masih sekitar 77 persen dan sisanya dipenuhi pasokan dalam negeri.

Demikian penegasan Direktur Budidaya Ternak Ditjen Peternakan dan  Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Fauzi Luthan di Jakarta, Kamis (17/4/2014).

Satu langkah untuk menekan impor itu adalah meningkatkan produksi susu perah peternak lokal. Untuk itu, Kementan sudah menyiapkan blue print guna mengejar ketertinggalan tersebut. Dalam  blue print tersebut  dinyatakan bahwa pengurangan impor ditarget bisa tuntas pada 2020 mendatang. Atas hal itu, menurut Fauzi, produksi susu peternak bakal digenjot sebesar 4-5 persen tiap tahunnya.

Diakuinya, minimnya produksi susu sapi akibat kurangnya populasi akibat pemotongan sapi perah betina juga rendahnya pendapatan peternak sapi perah lokal. “Meski petani sapi perah memetik keuntungan harian, namun harga jual petani hanya Rp 3.500 -4.000 per liter,” ujarnya.

Fauzi menambahkan, liberalisasi perdagangan susu menyebabkan skala usaha peternak sapi perah lokal sulit naik. Padahal biaya konsentrat terus meningkat.

Kontribusinya terhadap biaya pokok mencapai 80 persen. Terlebih kepemilikan sapi perah oleh petani hanya dua ekor, jauh dari standar usaha minimal tujuh ekor/petani. Kondisi itu menyebabkan,pola budidaya sapi perah petani sekedar melanjutkan usaha.

Diakui Fauzi, kewenangan instansi tidak lagi memungkinkan mengitervensi pasar seperti pada kebijakan masa lalu yang mengaitkan realisasi impor oleh industri dengan kewajiban menyerap sapi perah lokal.

Kendati begitu, pihaknya terus mendorong peternak untuk mengolah menjadi produk susu olahan. Guna mengejar pertumbuhan susu nasional tiap tahunnya, sambung Fauzi, pihaknya berupaya mempertahankan populasi sapi perah betina petani lokal.

Di antaranya dengan pola rearing, anak sapi dibeli pemerintah dengan cara memberikan subsidi pakan konsentrat protein 16 persen dan Total Digestible Nutrien 70 persen selama 2 tahun. Untuk keperluan itu, pihaknya menyediakan budget sebesar Rp 350 juta/kelompok kepada 300 kelompok di 10 provinsi. (ram)