Survei: Ini Parpol yang Bakal Menguasai Jatim

Survei: Ini Parpol yang Bakal Menguasai Jatim

foto:humas umsurabaya

PDIP dan PKB diperkirakan bersaing ketat menguasai kekuatan politik di Jawa Timur pada Pemilu 2019. Demikian hasil survei Pusat Studi Anti-Korupsi dan Demokrasi (PUSAD) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya).

“Persaingan elektabilitas kedua partai politik (parpol) tersebut sangat sengit,” ujar Direktur PUSAD UMSurabaya Satria Unggul W.P, Kamis (24/1/2019). Acara ini dihadiri Aribowo (pengamat politik Unair) dan Umar Sholahudin (direktur Parliament Watch).

Dia lalu mememberkan prosentase keterpilihan. PDI-P sebesar 21,80% disusul PKB 21,68%, Partai Gerindra 14,30%, Golkar 7,10%, Demokrat 4,5%.

Parpol lain dibawah ambang batas parliementary tresshold, yaitu PAN sebesar 2,70%, Partai Nasdem 1,90%, PPP 1,60%, Perindo 1,3%, dan Hanura 1,2%.

Beberapa partai tingkat keterpilihan di bawah 1% seperti PSI, Partai Garuda, Partai Berkarya, PBB, dan PKPI.

“Sebanyak 14,20% masyarakat Jawa Timur belum menentukan pilihan, dan 4,325 memilih golput,” imbuh Satria.

Satria juga menjelaskan potensi konflik yang terjadi pada Pemilu 2019 di Jawa Timur. “Kami mendapatkan data dari tim peneliti lapangan, dalam tipologi potensi konflik yang didorong oleh fatwa atau seruan atas nama agama sebanyak 40,5%, penyalahgunaan perizinan 24,5%, isu hoax dan black campaign 13,2%, isu SARA 11,8 %, serta netralitas ASN dan penyalahgunaan APBN/APBD 10%”, jabarnya.

Selain itu,  imbuh dia, praktik money politics juga menjadi tantangan besar menciptakan pemilu yang luber dan jurdil. Di mana 66,50% masyarakat Jawa Timur tetap menerima uang dari money politics yang diberikan calon, tetapi tetap memilih berdasarkan hati. Sebanyak 15% menerima uang tersebut dan memilih calon yang memberikan uang, 16,67% menerima uang tersebut tetapi tidak memilih yang memberi uang, dan 1,87% yang menolak menerima uang

Kata dia, dengan berbagai macam jenis dan sebutan, shodaqoh politik, serangan fajar, dan sebagainya, money politics sangat menentukan pilihan elektoral dengan presisi masing-masing pasangan calon. “Ini yang menjadi keprihatinan kita bersama. Kami menemukan fenomena tersebut di berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur dengan pola yang beragam,” ungkap Satria. (wh)