Suramadu dan Harapan Jadi Gerbang Ekonomi Madura

Suramadu dan Harapan Jadi Gerbang Ekonomi Madura

Empat tahun sudah Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) dioperasikan. Jembatan sepanjang 5.438 meter yang melintasi Selat Madura, menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura yang menghabiskan anggaran Rp 4,5 triliun tersebut, diharapkan membawa spirit besar untuk membangun Madura.

Namun faktanya, hingga sekarang pembangunan di Madura belum menunjukkan perubahan signifikan. Boleh dibilang, pulau yang miliki empat kabupaten itu baru tersentuh ‘kemajuan’ paling akhir dibanding kota/kabupaten lain di Jatim.

Di masa lalu, pemahaman ini barangkali benar adanya. Maklum, akses menuju ke Pulau Garam ini sangat terbatas. Hanya feri satu-satunya moda angkutan yang tersedia untuk bisa ke Madura. Tapi, semua berubah sejak 10 Juni 2009 lalu. Hari itu, secara resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan Jembatan Suramadu. Jembatan ini ‘mengikis’ jarak antara Madura dengan Jawa sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi Jatim.

Kemudahan akses ini pada akhirnya meningkatkan mobilitas. Lalu lalang manusia dengan berbagai urusan menjadi lebih cepat dan efisien. Ujungnya, ekonomi Madura pun terkerek naik.

Tilik saja data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim. PDRB empat kabupaten di Pulau Madura mengalami peningkatan tiap tahunnya.  Ada lonjakan angka  yang menyolok  antara sebelum dan sesudah adanya Jembatan Suramadu.

Pada tahun 2006, saat Suramadu belum ada, PDRB ADHK Madura mencapai Rp 11,36 triliun. Lima tahun kemudian, tepatnya pada 2011, ada kenaikan Rp 2,8 triliun  menjadi Rp 14,16 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa ekonomi Madura mulai tumbuh naik dengan kontribusi  terhadap PDRB Jatim 3,86 persen pada 2011.

Meskipun nilai kontribusi ini masih relatif kecil, namun diharapkan beberapa tahun ke depan akan melonjak naik dan memberikan kontribusi yang lebih besar.

Kenaikan jaga dialami pada angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Tiap tahun, IPM di empat kabupaten Madura terus alami kenaikan.  Pada tahun 2012, IPM kabupaten Bangkalan 65.69 naik 1,94 persen dibandingkan tahun 2011, Kabupaten Sampang memiliki nilai IPM 61,67 naik sebesar 2,27 persen, untuk Kabupaten Sumenep nilai IPM pada 2012 sebesar 66.41 dengan kenaikan sebesar 1.18 persen. Kenaikan tertinggi dicapai Kabupaten Pamekasan, yakni 66,51 naik sebesar 2,98 persen.

Data-data tersebut tak bisa dibantah bahwa ada yang berubah di Madura. Siap atau tidak perubahan itu akan datang. Menggilas bagi mereka yang minim skill maupun pengetahuan. Tentu saja, jika tak disikapi dengan bijak, ini bakal menjadi bencana bagi Madura. Di balik geliat pertumbuhan ekonomi,  masyarakat Madura hanya menjadi penonton saja. Pelaku-pelaku bisnis malah dari luar Madura.

Untuk itu, butuh langkah strategis dari semua kalangan agar mimpi buruk ini tak sampai terjadi. Salah satunya, meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Madura. Salah satu cara dengan melakukan pemberdayaan masyarakat. Langkah ini bisa dilakukan  lewat berbagi cara, seperti pelatihan dan penyuluhan.

Selain itu, perlu dilakukan pengembangan potensi kawasan di Madura meliputi bidang pariwisata, industri kecil, pertambangan, peternakan, perikanan dan pertanian atau perdagangan dan industri besar. Sedangkan untuk pengembangan kawasan dilakukan dengan pembanguna infrastruktur penunjang.

Pembangunan dan pengembangan sosial ekonomi di Madura akan berhasil jika semua pihak optimistis dan saling mendukung. Masyarakat harus semakin mandiri untuk turut serta dalam pembangunan ekonomi Madura. Di sisi lain, pemerintah harus melaksanakan program pembangunan yang strategis demi terwujudnya masyarakat Madura yang sejahtera.

Sinergi seperti itu mutlak diperlukan. Jika tidak, keberadaan Suramadu justru akan disesali dan diratapi karena dianggap tak membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat Madura.(*)