Surabaya Teken Pakta Integritas dan Perjanjian Kinerja via Elektonik

Surabaya Teken Pakta Integritas dan Perjanjian Kinerja via Elektonik

foto:humas pemkot surabaya

Jajaran Pemerintah Kota Surabaya menandatangani pakta integritas dan perjanjian kinerja via elektronik di ruang sidang Wali Kota Surabaya, Selasa (26/3/2019). Penandatanganan kali ini diikuti Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Camat se-Kota Surabaya.

Penandatanganan kali ini memang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya yang masih menggunakan tandatangan manual. Tahun ini, dengan arahan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, penandatanganan pakta integritas dan perjanjian kinerja itu dilakukan via elektronik. Para pejabat itu diminta untuk mengakses sebuah akun yang sudah diberi username khusus.

Penandatanganan pakta integritas dan perjanjian kinerja itu sudah diamanatkan dalam Peraturan Menteri, Pendayagunaan Aparatur Negara, Reformasi Birokrasi (Permen Pan RB) No 49 tahun 2011 tentang Pedoman Umum pakta integritas dan Permen PAN RB No 53 tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, pelaporan kinerja dan tata cara reviu atas laporan kinerja instansi pemerintah.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan ketika masuk dalam pemerintahan, seharusnya belajar tentang administrasi dan pengelolaan keuangan. Hal ini dinilai penting supaya lebih teliti dalam pengaturan administrasi dan pengelolaan keuangan.

“Jadi, kita tidak boleh teledor. Tolong mulai sekarang kita tidak boleh bilang ini buru-buru dan sebagainya, tidak ada kata itu. Tetap harus teliti,” kata Wali Kota Risma.

Selain itu, Wali kota yang juga menjabat sebagai Presiden United Cities Local Governments Asia-Pacific (UCLG ASPAC) juga meminta kepada jajarannya untuk tidak pernah malu untuk belajar dan bertanya tentang hal-hal yang tidak dimengerti. Bahkan, ia juga meminta supaya jajarannya itu tidak pernah sombong atau merasa paling tahu.

“Aku biasanya kalau tidak ngerti mesti tanya. Jangan merasa dirinya paling benar dan paling mengerti. Jadi, kalau tidak mengerti tolong tanya,” imbuhnya.

Wali kota perempuan pertama di Kota Surabaya itu juga meminta kepada jajarannya untuk selalu memperhatikan penyerapan anggaran. Ia mengaku, tahun lalu penyerapan anggaran Pemkot Surabaya sudah mencapai 92 persen dan itu merupakan penyerapan anggaran terbesar sepanjang sejarah. “Jadi, saya minta tahun ini jangan sampai kurang dari itu (92 persen), mau tidak mau kita harus luangkan waktu untuk memplototi penyerapan anggaran itu,” kata dia. Wali Kota Risma juga berkali-kali meminta kepada para camat untuk selalu berhati-hati. Terutama dalam pengadaan barang dan jasa “Apalagi nanti kalau ada dana kelurahan, sehingga harus lebih berhati-hati,” pungkasnya.(wh)