Surabaya Property Expo Target Transaksi Rp 150 M

Surabaya Property Expo Target Transaksi Rp 150 M

Surabaya Property Expo (SPX) di Exhibition Hall Grand City Surabaya diserbu pengunjung untuk beinvestasi. Mereka lebih memilih apartemen dari pada perumahan untuk tempat tinggal dan berinvestasi di Jatim.

Hal ini menunjukan potensi investasi perumahan dan apartemen sangat menjanjikan. Dalam pameran ini, panitia Surabaya Property Expo menarget transaksi akan melebihi Rp 150 miliar. Target ini diterapkan karena proses transaksi tahun lalu (2013) dalam pameran mencapai Rp150 miliar.

“Kami menarget transaksi dalam pameran ini melebihi Rp150 miliar. September aja sampai jumlah itu, makanya bulan ini harus lebih dari itu,” ujar Fanny Justisia, marketing event Surabaya Property Expo di Grand City, Rabu (22/1/2014).

Fanny menuturkan, pameran diikui 56 developer. Mereka berasal dari Surabaya, Singapore, Bali, Samarinda, Balikpapan, dan pengusaha-pengusaha dari daerah lain. 

Dalam pameran, konsumen bakal mendapatkan harga terbaik dan promosi menarik selama pameran berlangsung. Mereka juga bisa mendapatkan doorprize Toyota Nav 1 dan berbagai doorprize menarik lainnya. 

Dengan penawaran yang diberikan, masyarakat banyak yang berminat untuk melihat pameran. Apartemen menjadi tujuan masyarakat untuk bertransaksi. Sedangkan rumah menjadi alternatif setelah apartemen. “Apartemen mendominasi proses transaksi pembelian,” ujarnya.

Untuk harga terendah apartemen, terang Fanny, dipatok Rp 200 juta. Sedangkan harga paling mahal Rp 3 miliar. Harga yang ditetapkan tidak mempengaruhi masyarakat untuk memiliki tempat tinggal diapartemen.

Sementara perumahan menawarkan harga yang lebih menarik. Konsumen bisa mengeluarkan DP sebesar Rp 20 juta. Dengan penawaran yang ada, proses transaksi yang terjadi dalam pembelian hingga saat ini mencapai Rp 3 miliar. 

“Perumahan semanggi proses transaksinya mencapai Rp 3 miliar. Banyak juga peminatnya, tetapi tidak sebanyak apartemen,” ujar dia.

Dalam pameran ini, panitia membidik masyarakat kelas menengah ke atas. Hal ini dilakukan karena letak lokasi yang ditawarkan cukup menjanjikan, berada di kota baru yang memiliki potensi bisnis kedepan lebih baik.(wh)