Surabaya, Kiblat Larangan Penjualan Miras Nasional

Surabaya, Kiblat Larangan Penjualan Miras Nasional

Dwi Setyaningsih, peneliti Enciety Business Consult

Awal 2015, Pemerintah  mengeluarkan kebijakan larangan menjual minuman beralkohol di minimarket. Dalam Peraturan Menteri No.06/M-DAG/PER/I/2015, larangan diberlakukan pada minuman keras (miras) golongan A dengan kandungan etil alkohol atau etanol sampai dengan 5 persen.

Salah satu jenis produknya adalah bir. Namun, tahukah Anda jika Surabaya sudah lebih dulu meluncurkan aturan serupa, bahkan dikenakan pada miras semua golongan. Peraturan daerah (Perda) tersebut disahkan pada akhir Mei 2014.

Asosiasi Perdagangan Minuman Beralkohol (Aspermira) menyebutkan bahwa untuk minuman beralkohol jenis A saja, 800 ribu hingga 1 juta botol setiap bulannya beredar di Surabaya. Sehingga, tidak hanya kandungan alkohol yang menjadi masalah, melainkan perubahan gaya hidup saat ini yang sudah mengkhawatirkan dan mencemaskan.

Kita pantas miris saat melihat segerombolan anak berseragam SMP masuk minimarket sambil kasak-kusuk dan canggung mulai mendekati rak berisi bir. Tragisnya pula, rak berada di depan hingga tak perlu waktu lama untuk bisa menemukannya. Kendato nampak malu-malu, anak-nak berseragam SMP itu lalu membayar sebotol bir ke kasir.

Itulah kiranya yang ingin diselamatkan oleh pemangku kebijakan negeri ini. Generasi muda adalah aset. Bangsa ini butuh aset yang sehat tentunya. (wh)