ITS Surabaya Kehilangan Pakar Drainase

ITS Surabaya Kehilangan Pakar Drainase

Para sivitas akademika ITS yang melayat mengantri untuk menyalami keluarga Ir Anggrahini

Sivitas akademika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya sedang berduka. Salah satu putra terbaiknya yang telah banyak berjasa membesarkan nama baik kampus ITS telah pergi menghadap Sang Khalik untuk selamanya, Rabu (15/6/2016). Dialah Ir Anggrahini MSc, dosen senior jurusan Teknik Sipil yang dikenal sebagai seorang pakar di bidang drainase.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada sosok yang telah banyak menyumbangkan pemikirannya untuk perkembangan kota Surabaya ini, jenazah Ir Anggrahini disemayamkan terlebih dahulu di aula Plasa dr Angka ITS, Kamis (16/6/2016), untuk dilakukan upacara pelepasan.

Para pelayat yang mayoritas merupakan sahabat, kolega, murid, serta sivitas akademika ITS terlihat padat memenuhi tempat persemayaman untuk memberikan penghormatan terakhir. Suasana haru pun menyelimuti prosesi acara yang berlangsung sekitar 1,5 jam.

Tak terkecuali Rektor ITS, Prof Ir Joni Hermana MScES PhD, yang tak henti-hentinya menitikkan air mata saat menyampaikan sambutannya di hadapan jenazah. “Beliau (Anggrahini, red) adalah sosok guru yang sangat baik dan banyak membimbing kami para yuniornya. Kami tidak akan bisa melupakan kebaikan beliau,” tutur Joni dengan sedikit terisak.

Para mantan rektor ITS pun terlihat hadir antara lain Prof Muhammad Zaki, Prof Soegiono, Prof Muhammad Nuh, Prof Priyo Suprobo, dan Prof Tri Yogi Yuwono.
Setelah prosesi upacara pelepasan, jenazah disalatkan di Masjid Manarul Ilmi ITS.

Selanjutnya jenazah dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Keputih, Surabaya. Ratusan pelayat pun turut mengiringi jenazah hingga ke tempat pemakaman dan mengikuti prosesi pemakaman hingga usai.

Untuk diketahui, Ir Anggrahini MSc meninggal dunia pada hari Rabu (15/6/2016) pukul 13.55 WIB di RSAL dr Ramelan Surabaya. Beliau menghembuskan nafas terakhir setelah berjuang melawan kanker paru-paru yang dideritanya.

“Bu Ang (sapaan akrab Anggrahini, red), adalah sosok yang sangat kuat, beliau tidak pernah mengeluh perihal sakitnya,” ungkap Prof Ir Indrasurya B Mochtar MSc PhD, salah satu mantan muridnya yang jug mengikuti jejaknya menjadi dosen di jurusan Teknik Sipil ITS.

Enam bulan yang lalu, cerita Indrasurya, Bu Ang telah melakukan check up tapi tidak terjadi apa-apa di paru-parunya. “Namun satu bulan terakhir ini kanker tersebut menjadi sangat ganas hingga akhirnya sampai pada stadium akhir,” tutur Indrasurya yang juga terlihat sangat berduka atas kepergian mantan Pembantu Rektor I ITS periode 1991 – 1995 tersebut.

Indrasurya menambahkan bahwa beliau adalah salah contoh ilmuwan yang patut untuk dijadikan teladan karena pengabdiannya yang tiada akhir. Telah banyak karya yang disumbangkan Bu Ang untuk Surabaya, bahkan Indonesia. “Beliau adalah sosok yang sangat konsisten, bahkan dua minggu sebelum meninggal masih sempat mengecek pompa air hujan di Wonorejo,” tambahnya.

Untuk diketahui juga, Bu Ang merupakan sosok di balik ide dibangunnya box culvert untuk mengatasi banjir di beberapa wilayah Surabaya. Beliau juga telah menuangkan ide untuk menaklukkan labilnya tanah di jembatan MERR Surabaya agar bisa dilalui kendaraan dengan aman dan nyaman.
Wanita kelahiran Mojosari, 23 Mei 1939 ini telah mulai menorehkan pengabdian untuk ITS sejak menjadi mahasiswa angkatan pertama Jurusan Teknik Sipil.

Beliau adalah orang yang pergi menemui Roeslan Abdul Gani agar datang menghadap Presiden RI pertama Ir Soekarno guna meresmikan ITS yang saat itu masih bernama Yayasan Pendidikan Tinggi Teknik (YPTT) untuk menjadi sekolah negeri.

Pada saat itu ITS yang hanya memiliki jurusan Teknik Mesin dan Teknik Sipil, sedang mengalami kesulitan dalam hal dana untuk mengikuti Pekan Olahraga (POR).  Seorang Anggrahini tidak tinggal diam, beliau mencari dana dengan menari.

“Pada waktu itu, ITS menyewa gedung seni Taman Hiburan Remaja, nantinya mahasiswa yang menyaksikan pertunjukkan akan dikenai biaya yang kemudian akan digunakan untuk mengikuti POR,” beber Ketua Jurusan Teknik Sipil tahun 1999 hingga 2007 ini mengisahkan.

Pria yang kini menjabat sebagai Ketua Lab Mekanika Tanah ini pernah menempuh studi di perguruan tinggi yang sama dengan Bu Ang, yaitu University of Wisconsin Madison dengan program studi Teknik Sipil yang terfokus pada Hydraulics.

“Ketika kami menjalani masa pendidikan, pada suatu hari ada malam penampilan seni untuk setiap negara dan Bu Ang menampilkan sendratari sebagai penari utama. Saat itu Prof I Nyoman Sutantra yang berasal dari Bali menjadi koreografernya,” ujarnya mengenang.

Menurut Indrasurya, Bu Ang adalah sosok yang sangat berjasa bagi kampus perjuangan ITS dan  sebagai generasi penerus patut mencontoh teladan yang telah diberikannya.

“Kalaupun ada penghargaan yang diperuntukkan bagi dosen teladan seumur hidup pastilah Bu Ang pemenangnya,” pungkasnya, lantas tertawa. (wh)