Surabaya, City of The Future

Surabaya, City of The Future

Surabaya, City of The Future

*Agus Wahyudi (aguswahyudi1972 @gmail. com )

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini kembali meraih prestasi internasional. Kali ini, Kota Surabaya mendapat Socrates Award 2014 dari Europe Business Assembly (EBA) untuk kategori City of the Future (Kota Masa Depan). Penghargaan tersebut diserahkan pada Rabu (16/4/2014) malam di London, Inggris. Selain menerima penghargaan, Risma juga diberi kehormatan menyampaikan paparan dalam forum tersebut.

Raihan ini, setidaknya sudah 55 penghargaan baik level nasional, Asia, dan internasional, diterima Kota Pahlawan pada tahun keempat era kepemimpinan Risma. Prestasi boleh jadi belum tertandingi oleh kepala daerah lain di Indonesia. Terlebih pada penghargaan terakhir, kategori City of the Future merupakan yang tertinggi yang bisa disabet peraih penghargaan setingkat kota.

Tak hanya itu, Surabaya dipandang mampu menyelesaikan berbagai permasalahan secara komprehensif. Parameternya pun jelas. Kini, intensitas banjir berkurang, kualitas udara membaik, sosial-pendidikan juga terus lebih baik. Dan lagi, terkait penanganan sosial, Surabaya dinilai melakukan secara manusiawi.

***

Surabaya memang menyimpang perjalanan panjang . Kota yang menyimpan banyak sejarah dan cerita. Kota yang melahirkan banyak tokoh-tokoh besar yang ikut membangun peradaban bangsa.

Denyut kehidupan Surabaya berasa dinamis. Inovasi dan restorasi di berbagai sektor pembangunan terus dilakukan. Beberapa infrastruktur kota seperti pedestrian, frontage road, box culvert, boezem, middle east ring road, menjadi bagian penting dari penyediaan fasilitas yang dibutuhkan publik.

Yang mencolok tentu membanjirnya taman kota. Surabaya kian hari makin hijau nan berseri. Makin seksi. Mengukuhkan label kota yang ramah dan peduli terhadap kelestarian lingkungan. Taman-taman kota menebar pesona keindahan dan menjadi alternatif rekreasi bagi warga. Sedikitnya, 20 taman dengan berbagai karakteristiknya menghiasi wajah kota berpenduduk sekitar 3 juta ini.

Kehadiran taman ini juga sebagai pengganti ruang terbuka hijau yang dibutuhkan sebagai paru-paru kota. Penyediaan fasilitas seperti jogging track, Wi-Fi, tempat bermain anak, air mancur, lampu hias, open stage, dan perpustakaan, menjadi pelengkap memenuhi dahaga warga Surabaya yang dulu sangat sulit menemukan tempat-tempat bercengkerama.

Dulu, Surabaya dibelit urusan sampah. Sekarang hal itu tak terdengar lagi. Tidak banyak lagi pihak yang meributkan perlunya membangun lahan pembuangan akhir (LPA). Padahal, Surabaya cuma memiliki LPA di Benowo sebagai pengganti LPA Keputih yang ditutup pada 2001. LPA Benowo yang luasnya 37 hektar itu, hanya mampu menampung 1.300 meter kubik sampah per harinya.

Redupnya kemelut sampah tersebut memang tak lepas dari naiknya pastisipasi publik. Eksekutif, media massa, LSM cukup gencar melakukan kampanye mengatasi sampah. Salah satunya, gerakan massif yang dikemas dalam kompetisi kebersihan. Kompetisi tersebut dihelat secara periodik dengan melibatkan kampung-kampung di 31 kecamatan. Kolaborasi beberapa stakeholder kota itu telah menjadi trigger yang efektif mengajak warga peduli sampah.

Yang mutakhir, volume sampah Surabaya turun hingga 100 ton per harinya. Dari 1.149 ton volume sampah setiap, sekitar 75 persen dihasilkan oleh rumah tangga,sisanya 25 persen berasal dari sampah industri yang berasal dari mal, apartemen, dan restoran.

Atmosfer kompetisi kebersihan terus menghangat di kalangan masyarakat. Jika sebelumnya hanya memilah, sekarang berkembang dengan munculnya kreativitas warga memanfaatkan sampah. Produk-pruduk daur ulang banyak lahir dari tangan-tangan warga. Aktivitasnya tidak lagi perseorangan, tapi komunal. Yang menggembirakan, selain mengeliminasi dampak buruk sampah, warga bisa mendulang rupiah dari memanfaatkan sampah. Hingga sekarang, sudah tak terhitung lagi berapa paket suvenir atau cinderamata berbahan sampah yang dijual di berbagai daerah, bahkan ada yang diekspor ke luar negeri.

Rona yang hijau itu pada gilirannya mengerek prestasi Surabaya. Di level nasional, Surabaya meraih Adipura delapan kali berturut-turut sejak 2006. Adipura merupakan penghargaan tertinggi untuk kebersihan dan pelestarian lingkungan kota. Penghargaan ini diberikan tiap tahun untuk kota-kota yang mampu menjaga dan melestarikan kebersihan lingkungan.

Tahun 2012, Surabaya dinobatkan sebagai salah satu kota berwawasan lingkungan terbaik se-Asia Pasifik. Penghargaan tersebut diberikan karena Surabaya berpartisipasi aktif dalam mengembangkan konsep pembangunan berwawasan lingkungan.  Surabaya layak disandingkan dengan kota-kota tenar, yakni Seoul (Korsel), Yokohama (Jepang), Penang (Malaysia), dan Mumbai (India).