Suplai Terganggu, Inflasi Surabaya Sentuh 1,18 Persen

Suplai Terganggu, Inflasi Surabaya Sentuh 1,18 Persen

Dari seluruh ibukota provinsi di pulau Jawa, Surabaya menempati peringkat kedua inflasi tertinggi pada bulan Januari 2014 setelah Serang sebesar 1,25 persen. Inflasi Surabaya sebesar 1,18 persen, lebih tinggi dibandingkan Bandung, Semarang, Jakarta, dan Yogyakarta. Bandung mengalami inflasi 1, 09 persen, disusul Jakarta sebesar 1,05 persen. Inflasi Semarang sebesar 0,90 persen dan Yogyakarta sebesar 1,18 persen. Tingginya inflasi Surabaya ini akibat gangguan suplai berbagai barang kebutuhan.

“Surabaya kan tidak memproduksi komoditi pertanian atau bahan makanan apapun, tapi tergantung jalur suplai dari luar,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Jatim M Sairi Hasbullah, Senin (3/2/2014).

Kemungkinan besar, lanjutnya, tingginya inflasi Surabaya akibat pasokan komoditi tersebut terganggu. “Bisa jadi karena jalur distribusinya terkena bencana alam. Tergantung komoditinya diambil dari daerah mana,” imbuhnya.

Komoditi penyumbang terbesar inflasi Surabaya adalah daging ayam ras sebesar 0,0535 persen, disusul tarif kereta api sebesar 0,0518 persen dan harga mobil sebesar 0,0502 persen. Sementara itu kenaikan harga tertinggi yang terjadi di kota Pahlawan adalah tomat sayur. Harganya melonjak sampai sebesar 35 persen. Melon juga mengalami perubahan harga sebesar 30,6 persen. Menyusul tarif kereta api sebesar 16,3 persen, daun pintu sebesar 13,4 persen, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 12 persen.

Sementara itu pada bulan Januari 2014, Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 1,06 persen. Angka ini masih berada di bawah inflasi nasional yang sebesar 1,07 persen. Inflasi di Jatim dipengaruhi kenaikan harga-harga semua kelompok pengeluaran. Ini ditunjukkan oleh kenaikan harga indeks pada kelompok bahan makanan sebesar 1,96 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, bahan bakar, dan gas sebesar 1,33 persen. Lalu kelompok makanan jadi, minuman, roko, dan tembakau sebesar 0,88 persen, kelompok sandang sebesar 0,79 persen, kelompok sebesar 0,62 persen, kelompok transportasi-komunikasi-jasa keuangan sebesar 0,52 persen, dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga mengalami inflasi sebesar 0,13 persen.

Sedang komoditas yang memberiakn andil terbesar terjadinya inflasi adalah bahan bakar rumah tangga, telur ayam ras, daging ayam ras, mobil, tomat sayur, tukang bukan amndor, melon, tarif kereta api, beras, dan daun pintu. Laju inflasi year-on-year Jatim tercatat sebesar 7,65 persen.(wh)