Sulap Sampah Kulit Bawang Jadi Uang

Sulap Sampah Kulit Bawang Jadi Uang
Maslika mendulang rupiah setelah menyulap sampah menjadi handicraft. Foto:arya wiraraja/enciety.co

Untuk menjadi pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang sukses dibutuhkan keteguhan usaha dan kecermatan dalam melihat peluang. Selain itu, butuh kreativitas tinggi dalam melakoni usaha tersebut.

kerajinan kulit bawang 2Maslika, ibu rumah tangga paro baya ini, memulai bisnisnya dari keresahannya akan sampah rumah tangga yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

“Pada awal tahun 2010, saya melihat sampah kulit bawang putih, kulit bawang merah, dan lain sebagainya numpuk di TPS (tempat pembuangan sampah) di sekitar rumah. Saat itu, saya iseng membuat kerajinan tangan handicraft dengan bentuk bunga mawar dari sampah-sampah rumah tangga tersebut,” ungkap Maslika ditemui enciety.co di rumahnya yang juga sebagai bengkel produksi, Jalan Tanah Merah 4, Surabaya, Selasa (22/12/2015).

Pada awal merintis usaha itu, dia mengaku produk yang dia hasilkan adalah hiasan lemari es berbentuk bunga, burung angsa, dan lain sebagainya.

Namun, ketika beberapa kali ikut pelatihan Pahlawan Ekonomi di Kaza City, Maslika disarankan untuk membuat satu produk handicraft, yaitu berupa hiasan ruangan yang berbentuk bunga, bros bunga dan lain sebagainya

Sebelum berbibis handicraft, Maslika ia pernah melakoni profesi sebagai penjahit baju selama 20 tahun. “Sebelum menikah dengan bapak (Suaib Efendi), saya dulu menjadi penjahit menerima pesanan baju. Melayani baju seragam sekolah dan lain sebagainya,” urainya.

Sekarang setelah bergabung dengan Pahlawan Ekonomi dan mendapatkan banyak ilmu baru, ia  merasa nyaman dengan menjadi pelaku UKM.

Terkait produksi, Maslika mengatakan sanggup menghasilkan 30 buah produk handicraft. “Sampai saat ini, untuk produksi saya hanya mengerjakan berdua dengan bapak (suami-red). Hal ini kami lakukan untuk menjaga kualitas produk. Namun jika ada pesanan dan mendesak kami baru minta bantuan dari tetangga sekitar,”terang dia.

Untuk pemasaran, Maslika mengaku, hingga kini dirinya hanya memasarkan produknya dengan cara menitipkan di gerai-gerai ternama di Kota Surabaya. “Contohnya, di gerai batik Mirota, gerai batik di Mal Royal Plaza, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Kini, lewat label UKM UKM Mawar Putih, sebulan Maslika bisa mengantongi sedikitnya Rp 2 jutaan. “Berbeda dengan awal merintis usaha ini mas, kami hanya dapat menghasilkan Rp 300 hingga Rp 400 ribu sebulan,” ungkap dia.

Lantas, dia menjelaskan jika kendala yang dia alami selama ini adalah kurang percaya diri untuk memasarkan barang hasil produksinya tersebut disosial media dan media online.

“Saya kurang berani mas, karena takut jika barang saya tidak diterima oleh khalayak luas. Selain itu, saya juga kesulitan untuk mengoperasionalkan gadget yang saya miliki,” ungkapnya, lantas tersenyum malu.

Ke depan, dia sangat berharap agar dirinya dapat memasarkan produknya melalui media online dan media sosial. “Saya melihat teman-teman dapat mengoperasikan handphone-nya, mereka tinggal memfoto dan di-upload ke media sosial, lalu pesanan datang begitu saja. Saya sangat ingin berkembang seperti itu, namun jujur saya kurang percaya diri. Saya  masih gagap teknologi, takut salah mengoperasikan handphone,” tuturnya. (wh)