Suku Bunga Jadi Kendala UMKM

 

Suku Bunga Jadi Kendala UMKM

Biaya produksi yang tinggi dirasakan pelaku usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) sebagai hambatan memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dengan cost production yang tinggi, harga produk pun menjadi lebih mahal sehingga sulit bersaing.

“Itu yang membuat daya saing kita kurang kompetitif. Akhirnya sulit beradu dengan harga jual dari negara-negara lain,” ujar Ketua III Forda UMKM Jatim, Chilman Suaidi. Besarnya biaya produksi dipicu tingginya suku bunga, bahan baku, serta naiknya biaya hidup yang menyebabkan upah tenaga kerja juga meningkat.

Dikatakan Chilman, suku bunga komersial yang berlaku saat ini masih berada di kisaran 12 persen atau lebih. Sedangkan di negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia dan Thailand suku bunga komersialnyanya hanya di kisaran 2-3 persen. Sehingga, harga produk impor bisa lebih murah 20-30 persen dibandingkan bikinan lokal.

Sebagai persiapan menghadapi persaingan, minimal dengan sesama negara ASEAN, harusnya pelaku UMKM diberi kondisi suku bunga rendah. “Idealnya sekitar 4 persen. Kalau suku bunga turun, ongkos produksi lebih rendah sehingga kami bisa meningkatkan produksi hingga 20 persen dari saat ini,” ujarnya.

Chilman menegaskan, secara keterampilan, industri kreatif di Jatim tidak memiliki kendala. “Kalau soal kualitas dan desain, kami berani bersaing,” tegasnya.

Forda UMKM Jatim sendiri akan membuat terobosan pemasaran memasuki pasar ASEAN. Setiap produk UMKM dari masing-masing daerah di Jatim akan dibuatkan profil dengan konsep one village one product dan dipublikasikan hingga ke manca negara. (wh)