Sukses Modifikasi Boneka, Ibu RT Ini Siap Ekspor Produknya

Sukses Modifikasi Boneka, Ibu RT Ini Siap Ekspor Produknya
Sukma Trilaksasi, owner Dian Collection, sukses mengembangkan usahanya boneka. Arya wiraraja/enciety.co

Berawal dari keprihatinan lalu berujung pada berkah. Itulah yang dialami Sukma Trilaksasi (57), perempuan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) Surabaya. Kecemasanya melihat booming boneka ala barat mendorong nalarnya untuk membuat produk boneka alternatif.

Sukma, begitu ia karib disapa, sedih melihat anak-anak sekarang memainkan boneka Barbie, yang notabene boneka tersebut menggambarkan perempuan modern dengan baju gaun ala budaya barat. Ia mempertanyakan kenapa kita tidak melirik budaya adilihung yang kita miliki.

Dalam kegelisahaannya, tercetus ide untuk memodifikasi boneka-boneka tersebut. “Saya memodifikasi boneka tersebut dengan menggunakan baju-baju adat dari berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya, ada boneka yang memakai baju adat Madura dengan motif merah putih, ada juga boneka yang menggunakan baju Kalimantan, Papua dan lain sebagainya,” ungkap Sukma ketika ditemui di rumahnya yang juga menjadi bengkel produksi  di Jalan Rungkut Permai II, Surabaya, Kamis (22/10/2015).

Di usia yang tidak muda lagi, Sukma memulai usahanya dengan membuat berbagai macam model boneka tersebut tanpa bantuan orang lain. Untuk membuat boneka-boneka tersebut Sukma hanya bermodal kreativitas dan detail model yang didapat dari foto-foto baju adat dari internet.

“Pada awalnya, saya membuat boneka-boneka ini dengan tangan saya sendiri. Detail, mulai dari proses menjahit baju boneka kecil berikut hiasan manik-manik dan hiasan kepala boneka. Butuh imajinasi yang tinggi melakoni usaha ini,” jelas Sukma yang kini telah memiliki 3 cucu itu.

Ketekunan selalu berbuah manis. Lamat-lamat produk-produk boneka yang dikreasikan Sukma mulai mendapat apreasiasi masyarakat. Ada yang membeli langsung, ada juga yang memesan untuk cinderamata buatannya.

Sukma juga beruntung lantaran keluarganya mendukung dia. “Anak pertama saya perempuan Dian Ayu Pradani (32), anak kedua juga perempuan dian Maya Pitaloka (30), yang saat ini menjadi guru desain tatabusana. Kedua anak perempuan saya telah menikah dan kini ikut dengan suami mereka. Sementara, anak saya yang terakhir adalah Haryo Pandan Wibatsyuh (22) yang kini telah menempuh pendidikan Poli Teknik Surabaya, semester 6. Mereka semua mendukung usaha saya, termasuk suami saya, Satryo Purwanto (61),” urai Sukma.

Sukma mengungkapkan, jika nama UKM Dian Collection tersebut diambil dari nama anak-anak perempuannya. “Anak-anak saya mengikhlaskan nama mereka untuk dijadikan nama UKM yang saya kembangkan sampai sekarang ini,” ungkapnya.

Tahun 2010, Sukma diajak kawannya bergabung dengan Pahlawan Ekonomi Surabaya. Ceritanya saat itu, Sukma diajak ikit RoadShow Pahlawan Ekonomi. “Saat itu, saya sempat tidak percaya diri, karena saya membuat produk berupa boneka, dan belum tentu dapat diterima dan laku di pasaran. Namun, suami dan anak-anak mendorong saya untuk ikut pameran produk itu. Meski banyak kekurangan dalam proses produksi, tapi saya nekat ikut,” akunya.

Benar saja, saat ikut Road Show Pahlawan Ekonomi, banyak masyarakat yang melihat keunikan produk bonekanya. “Hingga Bu Risma, (sapaan karib Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini), mengatakan kepada saya, “Ini dibuat dari apa, Bu? Saya jawab dari bahan mika dan arcrilic. Bu Risma terheran-heran, dan saat itu juga beliau nawari saya untuk mengembangkan diri di Pahlawan Ekonomi,” ungkap dia.

Sukma mengakui, ketika bergabung dengan Pahlawan Ekonomi banyak manfaaat yang diperoleh. Ia mengaku mendapat banyak ilmu, mulai mengubah kemasan hingga strategi memasarkan produk via media online dan media sosial.

“Awal dibuat, saya membuat boneka dengan ukuran besar kurang lebih 15 cm, yang terdiri dari karakter boneka ayah, ibu dan anak. Namun, sekarang saya membuat boneka dengan ukuran lebih kecil, sekitar 7 cm dengan detail pakaian-pakaian adatnya. Selain itu, saat ini saya sudah memasarkan produk saya di Bukalapak.com, hal tersebut dapat mendongkrak omzet saya,” papar perempuan kelahiran Blitar itu.

Boneka-Dian-Collection-1 Boneka-Dian-Collection-2

Sukma mengimbuhkan, dengan memasarkan produknya via media online dan media sosial, omzet yang dia hasilkan meningkat berlipat-lipat. “Saat ini, omzet yang saya hasilkan tisp bulan rata-rata Rp 15 juta. Untuk satu buah boneka saya bandrol Rp 75 hingga Rp 250 ribu, Bergantung besar kecil dan detail bonekanya,” urainya.

Selain itu, Sukma mengatakan, jika media online dan media sosial memudahkannya dalam proses transaksi jual beli. “Dengan menggunakan media online, banyak pesanan dari luar kota dan bahkan dari luar negeri. Kebanyakan pesanan yang datang itu jumlah juga sangat banyak, jumlahnya lebih dari 300 biji,” ujarnya.

Sukma mengaku, saat ini ia sedang mengikuti program ekspor yang diadakan Kementerian Perdagangan RI. “Saya sering ikut pelatihan-pelatihan yang diadakan Kementrian Perdagangan RI. Dua minggu lalu, saya ikut pameran dan pelatihan di Lombok,” terang Sukma, bangga.

Ke depan, Sukma telah merancang strategi bisnis yang akan dia lakukan untuk mengembangkan UKM-nya. Ia mengaku terinspirasi dengan dua tokoh yang sangat dihormatinya.

“Apa yang disampaikan oleh Pak Kresnayana (Kresnayana yahya, Chairperson Enciety Business Consult) dan Bu Risma (Wali Kota Tri Rismaharini), bahwa ke depan kita harus dapat menyentuh pasar anak-anak muda. Pasar anak muda yang ada saat ini merupakan pasar yang stabil walaupun kondisi perekonomian lesu,” katanya.

Untuk itu, Sukma pun mengikuti program tata rupa yang digagas Pahlawan Ekonomi. “Sebenarnya sudah lama saya ingin ikut, namun saat ini karena usaha saya mulai berkembang jadi waktu saya menjadi semakin sedikit,” imbuhnya, lantas tersenyum.

Kata Sukma, mengutip saran Pak Kresnayana dan Bu Risma, jika untuk masuk ke dalam pasar anak muda yang harus dibenahi terlebih dahulu adalah tampilan produk.

“Alhamdulillah, produk yang saya tawarkan kini telah diminati oleh anak-anak muda. Selain menjadi suvenir dalam acara pernikahan, kini produk boneka yang saya buat telah menjadi cinderamata untuk para wisudawan. Banyak pesanan menjelang hari wisuda yang kebanyakan jatuh dua kali dalam satu tahun,” urainya.

Untuk memenuhi banyaknya pesanan, Sukma mengaku merekrut 10 orang pegawai yang berasal dari lingkungan tempat tinggalnya. Ia mengaku sangat terbantu sekali dengan banyak tetangga dan teman-teman di lingkungan saya tinggal yang mau membantu dalam proses produksi.

Selain mendulang rupiah, Sukma berharap dengan aktif menjadi pelaku UKM, nantinya mereka yang sekarang ikut membantunya bisa mengembangkan ilmu yang telah mereka pelajari darinya. “Ke depan, mereka harus dapat membuka usaha sendiri,” cetus Sukma. (wh)