Studi: 60 Persen Wanita Bekerja di Ranah Profesional

Studi: 60 Persen Wanita Bekerja di Ranah Profesional

Di era modern seperti sekarang, gaung kesetaraan peran antara perempuan dan laki-laki terus didengungkan. Namun ternyata, masih banyak anak perempuan yang mendapat hambatan dari keluarganya.

Menurut Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, berdasarkan data penelitian, katanya, kini persentase wanita bekerja sebanyak 60 persen. “Dulu cuma pekerjaan domestik, sekarang banyak yang terjun di ranah pekerjaan profesional,” ujarnya.

Ia pun menyebutkan, dalam 5-10 tahun terakhir bahkan mengalami lonjakan. Wanita bekerja tak hanya pada bagian-bagian yang menyangkut decision making. “Itu dulunya yang rumit itu, cuma dikrjakan laki-laki,” ucapnya.

Maka, kata Kresna, berkiprah di masyarakat sekarang tidak lagi mengenal batas fisik. Sehingga, orang tua tak perlu khawatir dengan anak perempuannya yang ingin berperan lebih bagi bangsa.

Kresna lalu mencontohkan dua sosok perempuan istimewa Surabaya, yakni Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Chandra Oratmangun dan Camat Sambikerep Retno Hariati.

Pakar Statistik asal Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya itu mengatakan, laki-laki dan perempuan punya kesempatan yang sama.
“Banyak organisasi malah lebih tertib karena dipegang perempuan. Mereka tahu keseimbangan, mana urusan domestik dan mana urusan kerja,” tuturnya.

Chandra Oratmangun mengamini pernyataan Kresna tersebut. Ia mengungkapkan, leadership alias kepemimpinan bukan hanya untuk laki-laki, tapi siapa saja.

“Bisa dilatih dan dikondisikan. Kemampuan-kemampuan inilah yang membuat peran perempuan tidak perlu dibedakan karena urusan fisik,” katanya.

Perempuan yang menjabat kepala dinas PMK sejak 2011 itu lantas menjawab tantangan. Dengan piawai membaca situasi di pekerjaan, ia mengaku tetap bisa menghadirkn diri sebaga sosok seorang perempuan feminim dan ibu yang lembut pula. “Kalau perempuan diberi kesempatan, kita bisa kok. Tapi nih lihat, saya juga tetap berdandan, mengurus suami,” celetuknya.

Hal itu kemudian dapat memberikan gambaran inspirasi bagi masyarakat, bagaimana mendidik anak laki-laki dan perempuan melihat besarnya tantangan kerja di masa depan. “Harus makin berimbang. Perempuan harus dilatih organisasi, supaya potensi dirinya bisa tampak,” imbuhnya.

Chandra mengungkapkan, kemampuan organisasi seringkali diabaikan. Untuk mengatasinya, ia mengaku mengambil keputusan berdasarkan prioritas. “Juga kemampuan teamwork dan membagi kerja,” tegasnya.

Chandra menceritakan bagaimana organisasi diajarkan oleh orang tuanya sejak kecil. “Saya ikut Pramuka, sehingga kepemimpinan dan organisasi terdidik dari kecil. Di Bakesbanglinmas dulu juga saya kan, menangani bencana. Saya harus segera menganalisa dengan cepat,” kisahnya. Ia mengaku terinspirasi dari sosok ibunya yang kala itu bekerja di Ambon. “Dari kecil ngeliat ibu saya. Beliau perempuan hebat,” tandasnya.

Lain lagi dengan pengalaman Retno Hariati. Baginya, sosok perempuan yang menginspirasi camat Sambikerep itu ialah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Sebagai camat perempuan ke-2 dalam sejarah Surabaya setelah Nanis Chaerani (sekarang Kepala Bapemas), ia berupaya mensinergikan keinginan warga. “Awalnya memang berat. Tapi dengan pola keibuan saya, alhamdulillah bisa. Bu Risma jadi sumber inspirasi saya,” katanya.

Mengawali karir sebagai birokrat seperti Risma, lulusan IPDN tersebut merintis dari bawah. “Secara umum saya awali jadi PNS di lapangan. Mulai petugas kecamatan, kepala seksi, lalu lurah selama 3 tahun. Terus jadi sekretaris camat lalu jadi camat. Saya mulai dari bawah sejak 2007,” urainya. Ia pun sudah makan asam garam dalam menyelami karakteristik wrga. Di Sambikerep, karakteristik mereka bermacam-macam. “Ada yang tradisional, ada perumahan elit,” ujarnya.

Seringkali ia menjumpai peristiwa demo warga, terutama saat menjabat lurah. “Warga itu ada yang tipikal ‘pokoke’, bahkan kelurahan sempat ditutup. Akhirnya dengan jiwa keibuan saya, saya negosiasi. Setelah itu saya fungsikan semua bawahan dan menerapkan disiplin kerja di kalangan aparat,” ungkapnya.

Retno mengakui, tak mudah membagi peran sebagai camat dan ibu rumah tangga. “Saya berusaha menyeimbangkan, karena dituntut persentasenya adil 50:50. Memang masih ada kekurangn, tapi sejauh ini asalkan kita berkarir tidak sampai meninggalkan keluarga,” ujarnya.

Retno menambahkan, bahwa setiap masalah selalu ada solusinya. “Makanya itu harus komunikasi dan kordinasi dengan keluarga,” pungkasnya.(wh)