Stok Gula Bulog Jatim Menipis, Tinggal 9 Ribu Ton

 

Stok Gula Bulog Jatim Menipis, Tinggal 9 Ribu Ton
Sutarto Alimoeso, Direktur Utama Perum Bulog Jatim.

Stok gula di Perum Bulog Jatim saat ini tersisa 9.000 ton.  Angka ini merupakan selisih dari stok sebesar 33.000 ton  dan terjual sebanyak 72,7 persen atau sebanyak 24 ribu ton.

“Stok gula Bulog mulai menipis. Gula yang kami miliki terjual melalui beberapa kegiatan usaha termasuk di gerai-gerai Bulog Mart hingga tersalur melalui operasi pasar, dan pasar murah saat Ramadan lalu,” kata Direktur Utama Perum Bulog Jatim Sutarto Alimoeso, Senin (4/8/2014).

Meski enggan menyebutkan harga jualnya, namun Sutarto mengatakan, dibandingkan dengan harga gula dipasaran, harag gula Bulog jauh lebih murah. Gula yang dimiliki Bulog dijual dengan berbagai ukuran yakni ukuran 1 kilogram (kg) hingga berukuran 50 kg.

Ia menuturkan, pengadaan gula yang dilakukan Bulog berasal dari impor dan pembelian dari pabrik gula (PG) lokal. Sekedar informasi, dari surat persetujuan impor (SPI) gula kristal putih (GKP) yang diberikan sebanyak 328.000 ton, Bulog hanya merealisasikan impor 22.000 ton.

SPI yang diberikan Kementerian Perdagangan (Kemendag) kepada Bulog tersebut berlaku hanya untuk jangka waktu 1 April-15 Mei 2014.

Sebelumnya, Bulog juga melakukan pembelian dari Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) sekitar 12.000 ton dengan harga Rp 8.600 per kg. Namun, untuk menjaga stabilitas harga gula dalam negeri,

Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi sempat menjelaskan tidak akan mengeluarkan izin impor GKP lagi hingga akhir tahun, termasuk tidak akan memberikan perpanjangan impor kepada Bulog.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Soemitro Samadikoen mengatakan, pihaknya menuntut agar impor gula tidak dilanjutkan. Hal ini dikarenakan stok gula dari musim giling tahun lalu dan musim panen tahun ini masih banyak. Hingga paruh tahun saja, stok gula diproyeksikan masih sekitar 300.000 ton-400.000 ton.

Masih banyaknya stok gula tersebut mengakibatkan harga lelang di PG tidak dapat tinggi. Di awal-awal masa giling saat ini harga lelang tebu rakyat hanya dihargai sekitar Rp 8.300 per kg-Rp 8.500 per kg.

Tak jarang, lelang gula dibatalkan lantaran harga yang terbentuk tidak memuaskan. Hingga akhir musim giling tebu, Soemitro memproyeksikan harga lelang tebu tidak akan melebihi Rp 10.000 per kg.  Padahal, menurut catatan Soemitro dua tahun terakhir harga lelang sempat menyentuh Rp 11.800 per kg, dengan harga terendah Rp 9.500 per kg. (ram)