Stafsus Wapres: Reformasi Birokrasi Surabaya Bisa Dicontoh Daerah Lain

Stafsus Wapres: Reformasi Birokrasi Surabaya Bisa Dicontoh Daerah Lain

Wali Kota Risma menghadiri FGD di Hotel JW Marriot Surabaya. foto: humas pemkot surabaya

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjadi pembicara dalam Forum Group Discussion (FGD) bertema Integritas, Netralitas, Birokrat, Efektivitas,Efisiensi, Tantangan, dan Harapan menuju Reformasi Birokrasi Ideal. Acara yang digelar oleh Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Reformasi dan Birokrasi itu diselenggarakan di Hotel JW Marriot Surabaya, Kamis (22/8/2019).

FGD tersebut dihadiri Staf Khusus Wakil Presiden Azyumardi Azra, peneliti Pusat Politik LIPI Siti Zuhro, guru besar IPDN Presiden I-OTDA, Djohermansyah Djohan, serta perwakilan praktisi dan akademisi universitas di Surabaya.

Dalam paparannya, Wali Kota Risma menyampaikan berbagai strategi dalam membangun integritas dan birokrat yang ada di Kota Surabaya. Mulai dari pembangunan infrastruktur hingga pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Ia juga menjelaskan tantangan yang dihadapi selama membangun Surabaya hingga saat ini.

“Semua pembangunan infrastruktur ini tidak ada gunanya kalau masyarakat tidak bisa secara langsung merasakannya,” kata Wali Kota Risma disela-sela menyampaikan materi.

Menurut Wali Kota Risma, salah satu dampak yang dirasakan masyarakat Surabaya selama ini tidak ada kenaikan inflasi bahan pokok seperti sembako dan kebutuhan pokok lainnya. Sebab, ia memantau perkembangan dari tiap kelurahan bahkan kecamatan melalui camat dan lurah. Karenanya, apabila ditemukan kenaikan harga, maka pihaknya langsung melakukan operasi pasar dengan membuat pasar tandingan.

“Saya buatkan pasar tandingan dengan mencari distributor paling murah, kemudian kita angkut sendiri menggunakan mobil Satpol PP, dan kemudian kita jual dengan harga yang stabil. Sehingga dampak yang seperti itu lah yang saya maksud bisa dirasakan oleh masyarakat secara langsung,” lanjut Presiden UCLG ASPAC itu.

Selain itu, semua proses transaksi dilakukan dengan menggunakan elektronik. Wali kota perempuan pertama di Kota Surabaya itu juga memastikan proses ini juga akan memudahkan masyarakat dalam memantau. Ia mencontohkan pada program Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang mana masyarakat dapat ikut memantau usulan-usulan yang disetujui.

“Masyarakat akan tahu proyek itu akan dikerjakan kapan, termasuk usulan perencanaan yang masuk dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD),” ujarnya.

Menurutnya, proses ini dianggap lebih cepat dan efektif.  Selain itu, cara ini dilakukan untuk meminimalis pengeluaran belanja. “Ini yang membuat kami kenapa cepat dan tepat karena hitungannya itu menjadi terkontrol dan transparan,” kata dia.

Tidak hanya itu, melalui sistem ini, Pemkot Surabaya juga bisa menekan anggaran supaya lebih hemat. Ia mencontohkan tahun ini rencana pemerintah kota (pemkot) hanya dapat membeli sekitar lima rumah pompa. Namun ternyata, pemkot berhasil membeli sembilan rumah pompa dalam setahun.

“Itu bisa dilakukan karena ini sisa tender yang terus saya pantau sendiri, sehingga sangat lumayan sisanya digunakan untuk pengadaan yang lain. Tahun ini kami bisa membeli sembilan rumah pompa,” imbuhnya.

Stafsus Wapres: Reformasi Birokrasi Surabaya Bisa Dicontoh Daerah Lain

Sementara itu, Staf Khusus Wakil Presiden RI, Azyumardi Azra, mengungkapkan pengalaman yang disampaikan Wali Kota Risma ini dapat menciptakan perubahan besar dalam sistem pemerintahan, birokrasi maupun bermasyarakat. Makanya, dia menganjurkan kepala daerah lainnya di Indonesia dianjurkan belajar ke Wali Kota Risma.

“Saya kira kepala daerah harus memiliki ketangguhan seperti Bu Risma yang memiliki keberanian. Jadi, kisah sukses seperti ini bisa ditiru oleh kepala daerah yang lain,” tegasnya.

Ia juga menilai, berbagai perubahan terjadi di Kota Surabaya sejak kepemimpinan Wali Kota Risma. Bahkan, ia menyebutkan yang paling dikagumi dari perubahan pesat ini ialah lingkungan hidupnya.

“Bu Risma berhasil menurunkan suhu udara, dan kita bisa lihat bersama lingkungan hidupnya. Surabaya jadi hijau dan bersih,” ujarnya.

Azyumardi menambahkan, pelayanan terhadap masyarakat juga berubah drastis menjadi lebih baik. Termasuk pula dalam bidang pendidikan, kesejahteraan sosial maupun kesehatan.

“Sampai pada jenis ambulance pun punya beberapa jenis sesuai kebutuhannya,” pungkasnya. (wh)