Sosialisasi Harga Elpiji Ibarat Pisau Bermata Dua

Sosialisasi Harga Elpiji Ibarat Pisau Bermata Dua
foto : umar alif/ enciety.co

PT Pertamina terkesan mendadak dalam menaikkan harga elpiji non subsidi ukuran 12 kg. Mereka beralasan, hal itu mencegah adanya penimbunan elpiji apabila ada sosialisasi kenaikan elpiji biru.

“Tidak ada sosialisasi kenaikan harga. Sosialisasi itu ibarat pisau bermata dua,” kata VP Corporate Communication, Ali Mundakir.

Ali menjelaskan, misalnya, sosialisasi dilakukan seminggu sebelumnya, masyarakat akan merasa kebingungan. Sebab, masyarakat tidak bisa berbuat banyak untuk menyetok elpiji.

“Kalau gas masih separuh (separuh kosong), masyarakat tidak bisa beli. Yang ada, malah oknum yang menimbun stok. Ujung-ujungnya, masyarakat yang kesulitan. Masyarakat yang benar-benar habis akan kesulitan (dapatkan elpiji),” kata dia.

Ali melanjutkan, Pertamina melakukan hal seperti itu untuk mencegah penimbunan tersebut. “Kami tidak memberi kesempatan kepada oknum yang ingin menimbun elpiji. Kami ingin menjaga pasokan,” ujarnya.

Dia mengatakan, sebelumnya Pertamina berencana menaikkan elpiji pada 2013, sebelum kenaikan BBM bersubsidi. Sebab, ada rencana untuk menaikkan harga BBM bersubsidi, perusahaan pelat merah ini menunda kenaikan bahan bakar elpiji.

Lagipula, menurut Ali, perusahaan pelat merah ini mengacu kepada Peraturan Menteri ESDM No. 26 Tahun 2009 pasal 25 yang menyebutkan bahwa harga jual elpiji 12 kg ditetapkan oleh badan usaha (dalam hal ini Pertamina), dengan mempertimbangkan harga patokan elpiji, kemampuan daya beli konsumen, dan pasokan elpiji.

“Harga gas Aramco USD1.172  per metrik ton. Kalau pakai kurs Rp10 ribu per dolar AS, harganya jadi Rp11.720. Kalau pakai kurs Rp12 ribu, berapa itu harganya? Itu baru bahan baku elpiji. Penjualan elpiji kan, ditambah pajak, marjin agen, filling cost, dan transportasi. Mungkin sekarang di atas Rp15 ribu,” kata dia.

Dia menegaskan bahwa apabila perusahaan pelat merah ini tetap menjual dengan harga keekonomian, yaitu berkisar Rp5.850 per kg, Pertamina akan mengalami kerugian cukup besar. “Kalau dengan kondisi ini, kami menjual dengan harga yang lama, potensi kerugian semakin besar dan bisa mengancam keberlangsungan suplai,” kata dia.

Beralih ke 3 Kg

Kenaikan ini akan mendorong pengguna elpiji 12 kg yang merupakan masyarakat menengah ke atas akan beralih menggunakan elpiji tabung isi tiga kilogram yang diperuntukan bagi masyarakat kalangan bawah.

Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat meminta pemerintah meninjau ulang kenaikan harga elpiji dalam tabung isi 12 kilogram.

Anggota Komisi VII dari Fraksi PKB, Agus Sulistiyono mengatakan kenaikan harga elpiji tersebut sebesar Rp3.959 per kilogram dari Rp5.850 menjadi Rp9.809 per kg dinilai sangat memberatkan masyarakat.

“Harga elpiji dari Rp 70.200/tabung isi 12 kg menjadi Rp 117.708/ tabung tentu sangat memberatkan masyarakat. Sebab, kenaikan harga elpiji lebih dari 70%,” katanya. (viva/ant/bh)