Soekarwo Klaim Jatim Bebas Daging Impor

Soekarwo Klaim Jatim Bebas Daging Impor

Jelang tutup tahun, Jatim steril dari peredaran daging sapi impor. Hal itu ditegaskan Gubernur Jatim Soekarwo usai menghadiri Hari Nusantara di JX International, Selasa (24/12/2013).

Pria yang akrab disapa Pakdhe itu menegaskan, pihaknya tetap menegakkan prinsip menolak daging sapi impor. “Daging impor hanya boleh untuk hotel bintang lima dan restoran kelas 1,” tuturnya.

Kebijakan penghentian daging impor di Jatim tersebut, menurut Soekarwo, sudah sesuai kondisi di pasaran. Ia menyebutkan, kekurangan daging di Indonesia sebesar 776.000 sapi atau senilai 132.000 ton daging. Sementara, sapi Jatim sekarang mencapai 3,8 juta ekor.

“Ini artinya, dari 531.000 yang diperlukan masyarakat Jatim, selebihnya untuk daerah lain,” ujarnya.

Jatim bahkan telah menjalin kerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta dan Jawa Barat untuk suplai. “Dengan wakil gubernur DKI, Jatim suplai sekitar 108.000 ekor. Sedangkan dengan Jabar 78.000 ekor,” urainya.

Kelahiran sapi Jatim sendiri tiap tahun mencapai 1.150.000 ekor. Angka tersebut masih bisa terus meningkat 7-9 persen tiap tahun. “Jadi kita masih cukup,” cetus Soekarwo.

Impor sapi ke Jatim, lanjut dia, adalah kerugian. Sebab, tidak ada tempat penampungan sapi-sapi impor alias ranch di provinsi ujung timur pulau Jawa tersebut. “Ya rugi, karena yang butuh daging itu sana (DKI dan Jabar-Red),” katanya. Di Indonesia, ranch terdapat di provinsi Lampung dan DKI Jakarta.

Sebelumnya diberitakan, ratusan ton daging sapi impor masih beredar di Jatim. Hal tersebut lantas menjadi momok bagi para penjagal yang ada di Rumah Potong Hewan (RPH) di seluruh Jatim. Bahkan beberapa RPH terancam gulung tikar dengan kelangkaan sapi potong dan digerojoknya volume daging impor di pasaran.

Per Desember, harga daging sapi lokal segar yang ada di pasaran sekitar Rp 90 ribu/kg, sementara untuk daging impor hanya sekitar Rp 75-85 ribu/kg.(wh)