Siapkan Capex Rp 600 M, Kimia Farma Jajaki Right Issue dan Penerbitan MTN

Siapkan Capex Rp 600 M, Kimia Farma Jajaki Right Issue dan Penerbitan MTN
foto: warta-apoteker.com

PT Kimia Farma TBk berencana penyiapkan belanja modal (capital expenditure) sebesar Rp 600 miliar untuk pengembangan sejumlah ekspansinya tahun depan. Selain memanfaatkan kas internal, pemenuhan belanja modal akan dipenuhi dengan memanfaatkan pembiayaan  eksternal.

“Kita masih hitung-hitung yang paling menguntungkan. Bisa saja kembali  menerbitkan MTN (medium term notes),  pinjaman bank atau mungkin right issue,” ujar Dirut PT Kimia Farma Tbk Rusdi Rosman kepada pers seusia peresmikan pengoperasian apotek ke 700 dan klinik ke 300 di Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (20/10/2015). Selain Rusdi, turut hadir dalam acara itu Dirut PT Kimia Farma Apotek (KFA) Imam Fathorrahman, dan Walikota Balikpapan H.M. Rizal Effendi.

Rusdi mengatakan, penjajakan right issue telah dilakukan dengan melakukan usulan ke pemegang saham. Namun, tak tertutup kemungkinan penggunaan dana eksternal akan memanfaatkan pinjaman perbankan atau kembali menerbitkan MTN.

Menurutnya, dana capex akan digunakan untuk membiayai sejumlah ekspansi perseroan, seperti untuk biaya konstruksi pembangunan dan pembelian mesin-mesin unit pabrik di Banjaran, Bandung.

Tahun ini, dari alokasi capex sebesar Rp 350 miliar telah terserap sekitar Rp 200 miliar. “Sisa capex akan terserap hingga akhir tahun karena kita menganggarkan untuk pembelian mesin-mesin untuk pabrik garam farmasi di Jombang (Jawa Timur),” imbuh Rusdi.

Terkait dengan ekspansi di bidang apotek dan klinik, Dirut Kimia Farma mengatakan, bahwa pengoperasian apotek ke 700 memberi kesempatan kepada PT Kimia Farma Apotek -anak usaha PT Kimia Farma Tbk- untuk memperluas lini usahanya tidak sekedar menjual obat dan fasilitas klinik kesehatan.

“Kita akan kembangkan apotek untuk usaha yang memberi manfaat kepada masyarakat. Kita bisa jual pulsa, pengiriman uang dan banyak peluang bisnis lainnya,”  imbuh Rusdi.

Yang pasti, kata Rusdi, dengan jaringan 700 apotek yang tersebar di seluruh Indonesia, KFA akan mempunyai bargaining yang kuat dengan produsen obat sehingga operasional apotek akan lebih efisien. “Dengan jaringan besar, diskon pasti lebih besar dong,” katanya.

Terkait dengan kinerja perseroan, Rusdi berharap Kimia Farma bisa membukukan pendapatan Rp 5,2 triliun sampai Rp 5,5 triliun dengan target laba bersih sesuai RKAP (Rencana  Kerja dan Anggaran Perusahaan) sebesar Rp 250 miliar.

“Hingga kuartal III 2015, pendapatan masih tumbuh double digit di tengah perlambatan ekonomi nasional,” katanya.

Rusdi mengaku beruntung pilihan strategi berekspansi pengembangan jaringan apotek dan klinik sepanjang tiga tahun terakhir, mampu menjaga perseroan tetap tumbuh bagus di tengah tekanan ekonomi yang cukup kuat.

“Selama tiga tahun terakhir, setiap tahun kita bangun minimal 100 apotek dan sejumlah klinik dengan investasi sekitar Rp 15 miliar hingga Rp 20 miliar,” katanya.

Rusdi berharap hingga akhir tahun Kimia Farma Apotek telah mengoperasikan 742 apotek dan 308 klinik. “Klinik agak lambat pertumbuhannya karena menyangkut perizinan yang memang sangat ketat,” paparnya. (wh)