Setelah Twitter, kini Turki Sasar DNS Google

Setelah Twitter, kini Turki Sasar DNS Google

Bendera Perang yang dikibarkan Pemerintah Turki  di jejaring sosial makin luas. Setelah menutup Twitter, kini sasaran diarahkan ke Domain Name System (DNS) publik milik Google. DNS adalah sistem penamaan domain. Fungsinya seperti fungsi buku telepon, sebagai database untuk memanggil alamat Internet Protocol yang dituju.

Akibat pemblokiran ini, warga kesusahan mengakses Twitter. Sedangkan aktivitas warga Turki di Twitter justru melonjak hingga 138 persen dibanding sebelum pemblokiran. Kondisi ini membuat Perdana Menteri Turki Recep Tayyep Erdogen bersiap memblokir DNS Google.

Anatolia, kantor berita pemerintah, menyebut pemerintah Erdogan memblokir Twitter karena dianggap mengabaikan perintah pengadilan Turki untuk menghapus beberapa tautan yang dianggap ilegal. Tautan ilegal ini mengacu pada rekaman pembicaraan Erdogan dan putranya yang terindikasi korupsi.

Tak hanya itu, pemerintah Turki juga telah meminta Google menurunkan video-video yang menganggu mereka di YouTube. Namun Google berkukuh bahwa itu adalah kebebasan berpendapat.

Sabtu kemarin, pengacara Twitter telah bertemu dengan pemerintah Turki. Namun tak jelas apa hasil pertemuan mereka.

Selama ini, kalangan oposisi banyak memanfaatkan Twitter untuk menyebarkan dokumen dugaan korupsi di lingkaran dalam Erdogan.

Langkah tersebut jelas ditentang berbagai pihak. Presiden Abdullah Gaul mengatakan pelarangan atas akses tersebut tidak dapat dimaafkan dan dia berharap hal itu tidak akan bertahan lama.

Hal serupa juga diserukan oleh Wakil Presiden Komisi Eropa Neelie Kroes yang mengatakan larangan Erdogan tersebut tidak berdasar dan langkah pengecut.(ram)