Setahun, PMI Surabaya Temukan 200 Kantong Darah Berpenyakit

Setahun, PMI Surabaya Temukan 200 Kantong Darah Berpenyakit

Kantong darah yang diperiksa oleh petugas PMI Kota Surabaya, Selasa (20/12/2016). foto:sandhi nurhartanto

Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia (UTD PMI) Kota Surabaya menemukan 200 kantong darah yang terdeteksi bakteri penyakit pada tahun 2015 lalu. Pun pada tahun 2016 ini, hingga akhir November, ditemukan 180 kantong darah yang tidak bisa diberikan kepada yang membutuhkan akibat ditemukannya penyakit.

Penyakit yang terbanyak diketemukan dalam darah pendonor adalah hepatitis B 75 persen, hepatitis C, sifilis dan HIV-AIDS. Namun sejak tahun 2000-an untuk penyakit HIV-AIDS  tidak lagi diketemukan di darah yang didapat dari pendonor.

Humas PMI Kota Surabaya Agung Trijutanto mengatakan, dari darah yang dihasilkan melalui penyadapan darah kepada pendonor, akan langsung dilakukan screening (pemeriksaan awal) dan bukan diagnosa.

“Saat screening itu baru diketahui, apakah darah yang usai disadap mengandung penyakit atau tidak. Pada tahun 2015 lalu, ada 200 kantong darah yang ditemukan virus penyakit atau 0,25 persen dari total pendonor. Sedangkan di tahun 2016 hingga November ini ada 180 kantong darah yang terdapat penyakitnya,” terang Agung Trijutanto kepada enciety.co, Selasa (20/12/2016).

Ia lalu menceritakan, proses screening dilakukan melalui satu tabung kecil darah yang didapat dari pendonor. Dan darah sebelum didistribusikan diwajibkan menunggu hasil uji dari laboratorium PMI Kota Surabaya.

“Bila ketahuan darah mengandung penyakit maka akan disisihkan. Mereka (pendonor, red) akan dipanggil oleh kami untuk dilakukan konsultasi dan diperiksa hingga tiga kali cek ulang. Otomatis pendonor setahun tidak bisa melakukan donor darah,” urainya.

Dengan tiga kali pengecekan, pertama, diharapkan akan kemungkinan penyakitnya turun. Pemeriksaan kali kedua rendah, dan ketiga hilang. Bila sudah hilang penyakitnya baru bisa donor lagi. (wh)