Setahun, Eropa Merilis 10 Ribu Film Baru

Setahun, Eropa Merilis 10 Ribu Film Baru
Chairperson Enciety Business Consult, Kresnayana Yahya saat mengisi Kupas Bisnis di Spazio Surabaya, Rabu (28/1/2015) malam. Avit hidayat/enciety.co

Meski potensi pasar perfilman di Indonesia sedang bergairah, tapi ini tidak berdampak positif pada produktivitas film di dalam negeri. Bahkan, industri perfilman Tanah Air masih jauh dari kuantitas yang bisa diproduksi oleh Eropa dan India. Mereka bisa memproduksi ribuan film baru.

Menurut Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya di era terbukanya informasi saat ini harusnya berdampak besar pada prospek perfilman Indonesia. Ini karena perfilman tidak lagi sebagai lahan mencari keuntungan semata tapi juga dijadikan sebagai mengasah profesionalisme industri perfilman. Artinya, kualitas dan produktivitas saat ini sudah ditunjang oleh berbagai sarana dan prasarana memadai.

“Kalau dilihat dari jumlahnya, film di Indonesia masih sangat sedikit per tahunnya. Mungkin hanya ratusan saja. Padahal di Eropa setiap tahunnya itu sedikitnya 10 ribu judul film dibuat. Di Brasil bahkan mempunyai kota perfilman yang punya spesifikasi yang berbeda-beda. Juga di India,” ujar Kresnayana saat mengisi Kupas Bisnis di Spazio, Rabu (28/1/2015) malam.

Tidak hanya itu, masalah yang perlu diperbaiki di Indonesia yakni kuantitas rumah produksi film. Ini karena hanya ada 41 perusahaan film saja di Indonesia. Ini pun potensi perputaran hingga laba belum bisa dikalkulasikan. Padahal Indonesia memiliki potensi penonton film hingga 40 juta jiwa dari total jumlah penduduk Indonesia.

“Di Indonesia budaya kita itu masih SMS-an saja. Padahal di negara lain itu sudah popular email. Artinya, aktivitas membagi data dan bisnis di internet sudah menjadi kebutuhan warga dunia. Bahkan, 92 persen warga Malaysia beraktivitas melalui email, lalu Philipina 96 persen, Thailand 85 persen, Vietnam 90 persen memanta news, sedangkan Indonesia masih 71 persen saja,” tambahnya.

Karena itu, Kresnayana berharap pada era mendatang, gairah industri perfilman nasional tidak hanya dikuasai film luar negeri. Dengan produktivitas yang tinggi, maka gairah bisnis di dunia perfilman akan terbaca. Termasuk di antaranya perputaran uang dan bisninya.

Sementara itu, pengamat perfilman Armand budiarto menilai persaingan bisnis industri film saat ini makin ketat. Terlebih dalam dunia bisnis serta perkembangan teknologinya. karena itu menurutnya diperlukan berbagai sarana penunjang komunikasi untuk memperbaiki kualitas film.

“Salah satunya itu adalah desain dan visual film yang bagus akan menarik perhatian masyarakat,” imbuhnya. (wh)