Setahun Berdiri, OJK Belum Bisa Dianggap Beri Solusi

 

Setahun Berdiri, OJK Belum Bisa Dianggap Beri Solusi

Kendati telah  terbentuk sejak setahun lalu, eksistensi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih belum bisa memberikan solusi pada industri keuangan. Bahkan ada yang menganggap OJK tidak akan mengatasi krisis keuangan.

Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI), Burhanuddin Abdullah mengatakan, keberadaan OJK hanya menambah beban keuangan. Pasalnya dengan adanya OJK harus dijalankan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten di bidangnya. “Saya selalu argumentasi, apakah itu solusi krisis, itu jawabannya bukan. Karena organisasi memenuhi kepakaran dan SDM yang justru membebani keuangan negara, maka saya bilang tidak perlu,” kata Burhanuddin, dalam diskusi Publik OJK Watch, Evaluasi 1 Tahun Menimbang Manfaat OJK, di Wisma Antara, Jakarta, Senin (23/6/2014).

Ia menambahkan, belum ditemui bukti lembaga OJK akan memperbaiki kondisi keuangan negara. Justru sebaliknya OJK hanya akan memperkeruh keuangan negara. “Tidak ada studi di mana pun, dengan keberadaan OJK bisa membantu industri keuangan yang lebih baik. Karena di negara lain ada OJK, tapi industri keuangan tidak baik, ini tidak menjamin dengan adanya otoritas,” tutur Burhanuddin.

Menurut Burhanuddin, Indonesia bukan negara yang baik untuk membuat organisasi, sehingga keberadaan OJK akan menambah kerumitan lembaga keuangan.

“Ujung-ujungnya malah curiga kalau ada masalah bikin satgas. Karena juga harus ada SK dan ada honorarium, itu melihatnya yang kemudian escape penangangan,” ungkapnya.

Meski begitu, Burhanuddin yang sempat sempat ragu dengan adanya OJK, memberikan kesempatan berdirinya OJK dengan memberikan berbagai catatan.

“Kami berikan kesempatan, walaupun ada keraguan, tunjukkan kinerja, masyarakat bisa sejahtera, financial inclusion dapat tercapai dan adanya pemerataan. Karena keraguan itulah, OJK dibentuk, sikap ragu dan sikap ilmiah yang baru. Akhirnya saya ucapkan selamat bekerja bagi OJK,” pungkasnya. (lp6/ram)