Sesuaikan Tarif Listrik, Harga Tekstil Naik 25 Persen

 

Sesuaikan Tarif Listrik, Harga Tekstil Naik 25 Persen

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), segera menaikkan harga jual tekstil dan produk tekstil (TPT) sebesar 15 -20 persen. Hal ini seiring dengan implementasi penyesuain tarif listrik yang diterapkan pemerintah.

“Kami akan naikkan harga TPT 15-20 persen. Ini akibat pemerintah menerapkan kenaikan tarif lis1trik yang berdampak pada beban biaya dan kinerja industri tekstil domestik,” kata ketua API Ade Sudrajat Usman di Jakarta, Senin (30/6/2014).

Menurut Ade, pemerintah telah menaikkan tarif listrik kepada pelanggan PT PLN (Persero) I3 perusahaan terbuka dan I4 per Mei 2014 lalu. Masing-masing penyesuaian tarif ini naik sebesar 38 persen atau sebesar Rp1.200 per Kwh, dan 64 persen dengan besaran kenaikan Rp1.190 per Kwh

Kondisi itu membuat pelaku usaha TPT melakukan peyesuaian tarif pada seluruh produknya. Apalagi, sampai hari ini pelemahan nilai tukar rupiah juga memberi kontribusi besar terhadap impor bahan baku pelaku usaha TPT domestik.

“Sudah tarif listrik naik. Kemudian kami juga kena beban dari melemahnya nilai tukar rupiah. Ini menjadi tekanan yang berat bagi pelaku usaha TPT dalam negeri,” tuturnya.

Dari semua kondisi itu, pihaknya memperkirakan efek domino bakal terus terjadi sehingga membuat sektor industri masuk dalam kondisi yang membahayakan. Tak menutup kemungkinan, industri TPT dalam negeri bakal mengalami kerugian yang cukup serius.

Snow ball itu akan lebih besar lagi. Dampaknya makin melebar. Industri kita didorong dalam kondisi yang membahayakan,” terang Ade.

Ade mencontohkan, saat ini saja pedagang dalam negeri enggan membeli TPT dari dalam negeri. Ini tak lain, lantaran pedagang enggan menerima produk yang lebih mahal akibat beban biaya yang dimasukkan oleh industr TPT nasional. “Dengan naiknya produk TPT hingga 15-20 persen maka impor TPT pun terus bergairah,” tambah Ade. (inl/ram)