Sering Ditangkap, 70 Kapal Antarpulau Mogok Beroperasi

Sering Ditangkap, 70 Kapal Antarpulau Mogok Beroperasi
Demo pengusaha kapal, awak kapal, dan pegawai shipping line di Pelabuhan Tanjung Perak.

Aksi mogok massal puluhan kapal antarpulau terjadi di Dermaga Kalimas, Pelabuhan Tanjung Perak Senin (16/12/2013). Aksi mogok itu sebagai bentuk protes karena kapal-kapal tersebut kerap ditangkap oleh Polair dan TNI AL tanpa alasan yang jelas.

Aksi yang berlangsung pukul 09.00 -12.30 tersebut, dilakukan pengusaha kapal, awak kapal, dan pegawai shipping line.  Dalam aksi mogok sehari yang disebut Hari Berkabung Pelayaran Indonesia itu, pendemo menuntut kapal agar dibentuk coast guard atau penjaga pantai. Ada 70 kapal di Kalimas yang sengaja tidak beroperasi.

Ketua Umum DPC Indonesia National Shipowner Association (INSA), Stenven Henry Lasawengan, menyesalkan banyaknya campur tangan di laut. Dimana tiap-tiap institusi pemerintah merasa memiliki wewenang dan melakukan tindakan di laut.

“Kita tidak melihat nilai kerugiannya. Tetapi aksi mogok ini bentuk protes kepada pemerintah yang kurang memerhatikan perjuangan pengusaha pelayaran,” kata Stenven.

DPC INSA Surabaya berharap amanah undang-undang no 17 tahun 2008 segera dijalankan, untuk membentuk coast guard. Pembentukan ini guna mengurangi penangkapan terhadap kapal niaga secara sporadis. Stenven menunjukkan selama ini masing-masing institusi dengan mudah menangkap kapal.

Stenven menunjuk ketika kapal dituduh membawa muatan ilegal ditangkap Pol Airud. Surat Izin Berlayar (SIB) dituduh tidak lengkap ditangkap kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak, dituduh menyalahi bongkar muat ditangkap Otoritas Pelabuhan.

“Kalau kami kesana ditangkap, kesini ditangkap. Lama-lama iklim usaha jasa pelayaran tidak kondusif,” tegas pria kelahiran Sangihe, Sulawesi Utara itu. Stop operasi ini diakui bentuk protes kepada pemerintah yang belum membentuk coast guard sesuai dengan Undang-Undang 17/2008 yang sudah lima tahun ditetapkan.

Terakhir, kapal yang ditahan adalah Senja Kaimana, Oktober 2013. Kapal tersebut dituduh menyalahi prosedur saat mengisi BBM dan ditahan hingga hampir satu bulan. Dampaknya kapal tidak beroperasi dan barang rusak akibat tidak terkirim.(wh)