Seribu Lebih Badak Afrika Diburu, Terburuk Dalam Sejarah

Seribu Lebih Badak Afrika Diburu, Terburuk Dalam Sejarah

Setelah singa Afrika Barat, kini giliran badak putih Afrika Selatan terancam punah, Tahun 2013 dinyatakan sebagai tahun terburuk dalam sejarah modern. Sebanyak 1.004 badak dibunuh oleh para pemburu. Berdasarkan data Departemen Afrika Selatan Urusan Lingkungan Hidup yang ditulis National Geographic, ini adalah angka tertinggi sejak awal tahun 1900-an.

Angka itu juga 1,5 kali lebih tinggi dibandingkan tahun 2012. Saat itu, 668 badak putih dibantai untuk diambil tanduknya, yang sangat diidam-idamkan karena dianggap sebagai barang mewah sebagian kolektor Asia.

Menurut International Union for Conservation of Nature (Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam), meningkatnya perburuan tersebut membuat status badak putih selatan menjadi terancam. “Tingkat perburuan tersebut akan melebihi jumlah badak yang baru lahir,” kata kordinator komunikasi global (TRAFFIC), Richard Thomas. TRAFFOC adalah sebuah jaringan yang memonitor perdagangan satwa liar.

“Keadaan kini benar-benar tidak membaik. Meskipun sudah terhitung tujuh tahun krisis ini berlangsung,” ujar Thomas. Status badak, lanjutnya, benar-benar segera memerlukan tindakan besar yang nyata.

Mengapa hal ini terjadi? Thomas lantas memaparkannya satu per satu. “Pertama, ada bukti baru bahwa para pemburu memanfaatkan Mozambik sebagai basis operasional, baik untuk memasuki Afrika Selatan demi membunuh hewan. Atau untuk menyelundupkan tanduk mereka,” jelasnya.

Kedua ialah fakta bahwa para pemburu tidak hanya penduduk lokal. Namun juga bagian dari jaringan kejahatan terorganisir yang kuat. Jaringan ini bahkan berkaitan dengan kegiatan ilegal lainnya, seperti narkoba, senjata api, dan perdagangan manusia di seluruh dunia.

Thomas mengungkapkan, para penjahat itu menjual tanduk di pasar Vietnam dan China. Di sana, tanduk badak digunakan oleh kelas kaya sebagai tonik kesehatan dan simbol ketinggian status sosial. Permintaan tanduk badak pun meningkat.

Pria aktivis perlindungan satwa itu lalu menyebutkan beberapa langkah yang harus segera dilakukan untuk mengantisipasi keadaan yang terlanjur gawat ini. “Pertama, Mozambik perlu meningkatkan hukuman pidana untuk kasus kejahatan satwa liar. Selama ini, hukumannya ringan karena dianggap hanya kejahatan ringan,” tuturnya.

Terlebih lagi, perlu ada tindakan penegakan hukum yang lebih baik di ranah aparat, termasuk menaruh lebih banyak satuan penindak hukum dan inisiatif lain, seperti anjing deteksi. Anjing deteksi ditujukan supaya dapat mengendus spesies yang terancam punah di penyeberangan perbatasan negara dan bandara.

“Dan mungkin yang paling penting adalah Konvensi Perdagangan Internasional untuk Endangered Species (Spesies Yang Terancam), agar mengurangi permintaan cula badak di Vietnam,” imbuhnya.

Selain itu, upaya meningkatkan kesadaran melalui pendidikan tentang dampak pada badak harus dilaksanakan. “Supaya mengubah sikap masyarakat, bahwa menggunakan tanduk badak itu tidak keren dan bukan lagi barang modis,” cetus Thomas.

Sepanjang sejarah, mengedukasi masyarakat agar mengubah sikap mereka terhadap produk perburuan satwa tertentu, adalah cara yang efektif. Contohnya ialah gading gajah di Jepang. “Gading gajah pernah menjadi barang mewah. Tetapi berkat kesadaran sebagian orang meluas mengenai perburuan gajah, sekarang tidak lagi populer di sana,” ujarnya. Maka menyelamatkan badak dari perburuan manusia, bukan suatu hal yang mustahil.