Serapan Bulog Jatim Tertinggi Nasional

 

Serapan Bulog Jatim Tertinggi Nasional

Realisasi penyerapan beras petani oleh Perum Bulog Divisi Regional Jawa Timur sepanjang Januari hingga Mei mencapai sebesar 478.894 ton beras. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi secara nasional disusul Jawa tengah dengan capaian 260 ribu ton.

“Serapan Jatim masih tertinggi nasional. Namun jumlah itu belum penuhi target sebesar 580.000 ton beras, sampai akhir Mei hanya terealisasi atau sekitar 44 persen dari target pengadaan setahun yang mencapai 1,1 juta ton,” kata Kepala Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Jawa Timur Rusdianto, Rabu (4/6/2014).

Secara nasional, kata dia, tercatat pengadaan mencapai dikisaran 1,3 juta ton beras atau kurang dari target yang ditetapkan sebesar 1,5 juta ton. Dalam pencapaian ini, Jatim berkontribusi mencapai sebesar 30 persen dari pengadaan nasional.

Menurut dia, terdapat beberapa faktor yang sebabkan pengadaan sedikit terlambat. Di antaranya, adanya pergeseran musim tanam, gangguan produksi di beberapa sentra padi di luar Jatim dan melonjaknya harga beras. Pergeseran musim taman, ujarnya, terjadi di beberapa sentra beras Jatim, seperti Bojonegoro, Jember dan Nganjuk.

Kondisi ini sebagai dampak dari banjir yang terjadi di akhir tahun lalu. Hal inilah yang mengakibatkan panen raya musim penghujan di awal tahun ini masih belum 100 persen. Hingga akhir Mei, panen masih mencapai 83 persen.

“Walau belum penuhi target, kami masih sangat yakin bisa mengejar keterlambatan pengadaan ini. Karena sampai saat ini masih ada beberapa daerah yang sedang panen. Sementara pada bulan Juli besok sudah mulai panen raya gaduh, walaupun secara hitung-hitungan produksi tanam gaduh hanya sekitar 40 persen dari total produksi, sementara 60 persen berada pada tanam musim penghujan kemarin,” ujarnya.

Sementara gangguan produksi di sentra beras menurut Rusdianto, terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Akibatnya, produksi beras Jatim juga mengalir ke dua provinsi tersebut.

Dampak selanjutnya yang juga menjadi faktor dominan penghambat kinerja penyerapan beras adalah harga beras yang mengalami kenaikan. Pada tahun ini, kata Rusdianto, rata-rata harga gabah kering giling (GKG) di pasaran mencapai Rp 3.565 per kilogram, atau sekitar 8 persen diatas Harga Pokok Pembelian (HPP) yang dikisaran Rp 3.300 per kilogram.

Padahal tahun lalu, rata-rata harga gabah masih dikisaran Rp 3.500 per kilogram atau sekitar 5 persen diatas HPP. Sementara harga beras juga mengalami kenaikan. Saat ini rata-rata harga beras medium mencapai Rp 6.800 per kilogram, tahun lalu masih sebesar Rp 6.750 per kilogram. Padahal HPP beras yang ditetapkan masih tetap sama, yaitu Rp 6.600 per kilogram.

Untuk mencapai target, Bulog telah melakukan beberapa langkah, di antaranya dengan melakukan pembelian di penggilingan kecil dan membentuk satgas. Satgas ini, lanjut dia, yang bertugas mencari dan membeli beras langsung dari petani dan penggilingan kecil serta pemberian layanan pada hari libur, baik minggu maupun hari libur nasional tetap bisa melakukan pengadaan.

Selain itu diupayakan pula lewat penanaman on farm. “Melalui berbagai langkah ini, kami berharap bisa mencapai target yang ditetapkan pada tahun ini,” tukasnya. (ram)