Serapan Beras Bulog Rendah meski Stok Melimpah

Serapan Beras Bulog Rendah meski Stok Melimpah
sumber foto: tempo

Musim panen raya padi telah berlangsung sejak April lalu hingga Juni mendatang. Kementerian Pertanian (Kemtan) pun mengklaim stok beras dari hasil panen tahun ini cukup melimpah. Namun, faktanya serapan gabah dan beras petani oleh Perum Bulog hingga pertengahan Mei ini masih tergolong rendah disbanding periode yang sama tahun lalu.

Saat ini volume penyerapan setara beras yang dilakukan Perum Bulog masih sekitar 500 ribu ton. Jumlah itu jauh lebih kecil atau hanya setengah dari penyerapan di periode yang sama tahun 2014 mencapai  hampir 1 juta ton. Sementara data Kemtan ada produksi gabah kering giling (GKG) selama bulan April-Mei sebanyak 12,39 juta ton. Bahkan diyakini ada surplus produksi mencapai 1,6 juta ton beras selama dua bulan.

“Banyak pertanyaan publik soal hasil panen raya beras karena dianggap tak mampu menekan harga beras yang masih tinggi. Bahkan gudang Bulog juga terlihat kosong atau belum terisi optimal,” kata Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Hasil Sembiring, Rabu (20/5/2015).

Guna memastikan stok tetap aman, pihaknya telah mengusulkan agar dilaksanakan pendataan kepada perusahaan swasta yang menggelar aktivitas penggilingan beras. Dengan pendataan ini, pemerintah bisa mengetahui stok beras yang disimpan pihak swasta, sehingga lebih mudah mengontrol harga beras di pasar.

Upaya Kemtan ini juga sekaligus meredam asumsi negating yang beredar di masyarakat. “Stok beras ini menjadi kelemahan pemerintah selama ini karena tak memiliki data pengelolaan beras selain milik Bulog. Untuk itu, nantinya seluruh industri penggilingan skala besar, menengah, dan kecil akan dilakukan pendataan,” ujarnya.

“Saat banyak anggapan produksi padi cukup banyak muncul pula pertanyaan, barangnya dimana? Padahal semua diproses terlebih dahulu. Butuh waktu satu hingga dua bulan setelah panen disimpan dalam gudang. Kemudian diproses seperti dijemur, dikeringkan lalu diolah dan dikemas. Baru kemudian dijual ke pasar,” ungkapnya.

Namun diakuinya jika kelemahan pemerintah saat ini adalah tidak memiliki data dan daftar penggilingan di seluruh daerah. Berapa jumlah penggilingan yang dilakukan industri skala beras, menengah dan kecil. Alhasil, berapa besar hasil panen yang diserap oleh pihak selain Bulog tidak ada data yang kongkret.

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir menambahkan, meski di atas kertas bakal terjadi surplus beras, namun ia meminta Bulog tingkatkan penyerapan. Selain itu, Bulog juga harus mewaspadai datangnya musim gadu, yakni petani memilih menyimpan hasil panen untuk kebutuhan sehari-hari.

“Musim gadu datang pada bulan Juni hingga musim kemarau. Jadi kalau sekarang penyerapan gabah beras tak dioptimalkan, kami khawatir saat musim gadu Bulog semakin kesulitan menyerap gabah beras milik petani,” tukasnya. (kmf/wh)