Sepp Blatter Mundur, Bagaimana Sanksi Indonesia?

Tolak Boikot, Blatter Dukung Penuh Piala Dunia Rusia 2018

Mundurnya Presiden FIFA Sepp Blatter yang baru saja terpilih kembali pada Kongres FIFA tahun 2015, membuat pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora) mempertanyakan keseriusan federasi sepakbola dunia ini menjatuhkan sanksi pada Indonesia.

Kepala Komunikasi Publik Kempora Indonesia, Gatot S Dewa Broto, menilai pihaknya sudah merasakan makin buruknya tata kelola manajemen FIFA saat organisasi tersebut menyampaikan sanksi melalui surat resminya kepada PSSI pada 30 Mei 2015. “Dalam surat tersebut, menilai sejumlah kejanggalan pada sanksi yang diberikan pada anggota federasinya, karena faktanya tidak berdasarkan data dan fakta yang sesungguhnya. Seakan-akan FIFA hanya bermain-main dalam memutuskan sanksi yang akan dijatuhkannya,” katanya lewat siaran tertulisnya, Rabu (3/6/2015).

Namun, apapun alasan dan motivasi Sepp Blatter untuk mengundurkan diri sebagai Presiden FIFA yang justru baru saja terpilih, Kempora tetap menaruh rasa hormat dan apresiasi kepadanya, karena keputusan tersebut dilakukannya tanpa harus menunda-nunda waktunya pada saat FIFA semakin menjadi sorotan internasional atas berbagai indikasi dugaan skandal korupsi yang melibatkan sejumlah pejabat tinggi FIFA di sekitar lingkaran kekuasaannya.

Pengunduran dirinya ini akan memberi peluang bagi berbagai pihak yang ingin melakukan reformasi total terhadap manajemen FIFA. Sesuai dengan janjinya, Sepp Blatter mengatakan, bahwa FIFA akan segera mengadakan Kongres Luar Biasa FIFA untuk memilih pengurus yang baru pada bulan Desember 2015. “Sambil menunggu akan diadakannya kongres yang dimaksud di Mexico, Sepp Blatter harus mampu membuktikan komitmennya untuk mereformasi secara keseluruhan,” ucap juru bicara Kempora itu.

Seandainya memang ada niat ke arah itu, bukan tidak mungkin Sepp Blatter akan didukung oleh sejumlah pihak untuk meletakkan dasar-dasar reformasinya sambil nanti akan dilanjutkan oleh siapapun yang terpilih menggantikannya dengan berbagai revisi sesuai kebutuhannya secara transparan, objektif, dan profesional.

Menurutnya, pengunduran diri Sepp Blatter itu hendaknya menjadi pelajaran bagi seluruh pejabat FIFA dan para anggota federasinya untuk juga harus responsif secara bijak jika menghadapi sorotan atas berbagai kasus yang ada tanpa harus menunda-nunda waktu pengunduran diri.

“Idealnya Sepp Blatter dulunya tidak perlu mencalonkan diri sebelum Kongres FIFA bulan Mei 2015 lalu, tetapi itu tidak mungkin karena merupakan haknya. Namun pengunduran dirinya saat ini paling tidak hanya memberi beban tambahan pada FIFA untuk mengadakan kongres lagi secepatnya dari pada menangani sejumlah masalah lain yang lebih mendesak,” ungkap Gatot. (bst)