Sentimen AS Bikin Rupiah Tertekan

 

Sentimen AS  Bikin Rupiah Tertekan

Rupiah kembali tertekan dan menembus level psikologis yaitu Rp 12.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Melemahnya dolar hingga ke level psikologis tersebut karena tekanan fundamental dan juga sentimen data ekonomi Amerika.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia hari ini tembus ke level Rp 12.000 per dolar AS, melemah dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat Rp 11.971 per dolar AS.

Sedangkan data valuta asing Bloomberg menunjukkan pagi ini nilai tukar rupiah dibuka di level Rp 11.995 per dolar AS, melemah tipis dibanding penutupan sehari sebelumnya yang berada di level Rp 11.992 per dolar AS. Pada pukul 10.30 WIB, nilai tukar rupiah terus melemah ke level Rp 11.998 per dolar AS.

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Sumual menjelaskan, pada minggu lalu Bank Sentral Amerika atau The Federal Reserve (The Fed) mengumumkan beberapa data ekonomi yang menunjukkan perbaikan.  “Ada beberapa data yang lebih tinggi dibanding dengan ekspektasi pasar sehingga membuat indeks dolar menguat,” tutur David.

 Beberapa data yang membaik tersebut antara lain data manufaktur, data pengangguran dan tenaga kerja, selain itu juga data perumahan. “Penguatan indeks dolar AS tak hanya terhadap rupiah saja tetapi juga terhadap 16 mata uang utama lainnya, jadi wajar,” tambahnya.

Selain data Amerika, data ekonomi China juga menunjukkan perbaikan. Hal tersebut membuat perkiraan akan perbaikan pertumbuhan ekonomi dunia kembali muncul setelah sebelumnya beberapa lembaga menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia sepanjan tahun ini.

David melanjutkan, pelemahan rupiah ini sudah diperkirakan oleh para ekonom setelah terjadi kenaikan harga minyak dunia. Menurut David, Indonesia merupakan negara yang unik dibanding dengan negara-negara lain dalam satu kawasan. Di saat mata uang negara lain juga tertekan karena kenaikan harga minyak mentah, rupiah mengalami tekanan yang paling dalam. “Penyebab utamanya karena Indonesia importir minyak yang cukup besar,” tutur David. Beban Indonesia dua kali lipat dibanding dengan negara lain karena tekanan tidak hanya terjadi karena kenaikan harga minyak tetapi juga pelemahan rupiah.

Sebenarnya, pelemahan rupiah cukup bagus bagi neraca ekspor karena produk Indonesia mempunyai daya saing. Namun perlu diperhatikan juga apakah permintaan dari negara yang menjadi partner.(wh)