Sensus Penduduk 2020, Ini Kata Bapak Statistika Indonesia

Sensus Penduduk 2020, Ini Kata Bapak Statistika Indonesia

Dadang Hardiwan dan Kresnayana Yahya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Konsep “Satu Data Kependudukan” akan diterapkan pemerintah. Data kependudukan ini menjadi data sentral bagi bidang lain. Lewat Sensus Penduduk 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) diharapkan menjadi sentral data dasar untuk mengenal potensi penduduk.

Hal itu ditegaskan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (10/1/2020). Acara ini dihadiri Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur Dadang Hardiwan.

“Data kependudukan ini menjadi acuan potensi perencanaan pemerintah. Jika data ini tercecer, seluruh unsur perencanaan ini akan terganggu. Dengan Sensus Penduduk 2020, kita berharap tidak ada data kependudukan yang dobel. Satu penduduk punya satu data,” ujar Kresnayana.

Menurut dia, masyarakat sering memertanyakan data potensi penduduk. Satu daerah provinsi melakukan survei, kemudian data tersebut dikumpulkan dan dicocokkan dengan data di tingkatan kota dan kabupaten.

“Menariknya itu datanya tidak sama. Hal semacam inilah yang kita harapkan bisa dihindari dengan adanya Sensus Penduduk 2020,” tegasnya.

Kresnayana mengatakan, dengan data tersebut karakteristik penduduk menjadi makin transparan. Lebih terkategori dengan baik. Sekarang, hal tersebut menjadi sangat penting.

Kresnayana lalu mencontohkan kasus stunting. “Saat ini hal itu jadi perbincangan cukup serius. Terutama terkait perkembangan penduduk dan perencanaan kebijakan yang dibutuhkan,” ujar pria yang dijuluki Bapak Statistika Indonesia itu.

Untuk diketahui, Sensus Penduduk 2020 merupakan kali ketujuh dalam sejarah sensus di Indonesia. Sensus Penduduk pertama dilakukan pada tahun 1961.

Kresnayana mengatakan, ada tiga sensus besar dilakukan BPS dalam kurun waktu tahunan. Yakni Sensus Ekonomi, Sensus Pertanian, dan Sensus Ekonomi.

“Jadi, jika masyarakat ingin tahu, ada ciri khas yang gampang diingat. Kalau kita masuk tahun genap, di mana angka belakangnya itu nol, maka kita akan mengadakan Sensus Penduduk. Kalau angka belakang tahun itu tiga, berarti kita akan mengadakan Sensus Pertanian. Sedangkan untuk tahun berakhiran enam, kita akan mengadakan Sensus Ekonomi,” urainya. (wh)