Semester Pertama, KBS Defisit Rp 3 M

 

Semester Pertama, KBS Devisit Rp 3 M
TM. Fuad Hasan, Direktur Keuangan dan SDM PDTS KBS

Perusahaan Daera Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PDTS KBS) mengalami defisit Rp 3 Miliar pada semester pertama 2014. Hal itu diungkapkan Direktur Keuangan dan SDM PDTS KBS, TM. Fuad Hasan.

“Pada tahun lalu, kami masih surplus meski itu kecil, yakni 38 juta keuntungan. Namun pada semeseter pertama, hingga akhir Juni kami mengalami devisit hingga Rp 3 miliar,” ungkapnyakepada enciety.co,  Selasa (19/8/2014).

Menurut Fuad, defisit terjadi lantaran surat izin lembaga konservasi baru turun pada Senin (18/8/2014) lalu. Ini kemudian menjadikan PDTS KBS Surabaya belum bisa membuat langkah apakah dilakukan kenaikan tiket masuk atau dilakukan suplai dari APBD Surabaya.

“Sementara ini, DPRD Surabaya sedang menggodok Perda Nomor 19 tahun 2012 tentang PDTS KBS. Nantinya apakah BUMD ini akan diproyeksikan sebagai perusahaaan pencari keuntungan atau tidak, tergantung saat paripurna dewan pada Jumat (22/8/2014) mendatang,” jelasnya.

Fuad melanjutkan, jika keputusan DPRD menetapkan PDTS KBS sebagai perusahaaan yang tidak mencari keuntungan, maka pihaknya membutuhkan subsidi yang diambil dari APBD Surabaya sebesar Rp 54 miliar.

“Dana tersebut diberikan secara berkala. Sementara ini Pemkot Surabaya sudah Rp 15 miliar yang diberikan kepada kami,” bebernya.

Fuad juga menjelaskan, sekian dana tersebut nantinya akan digunakan sebagai biaya operasional perawatan satwa yang mencapai Rp 1,7 miliar per bulannya.

“Sedangkan pendapatan kami rata-rata hanya Rp 1,2 miliar saja. Otomatis kami membutuhkan biaya tambahan dari APBD Surabaya yang sedang digodok ini,” tegasnya.

Fuad juga mengaku tengah membuka komunikasi dengan perusahaan swasta yang pernah akan memberikan bantuan kepada PDTS KBS. “Dulu ada beberapa perusahaan yang datang pada kami menawarkan bantuan, tapi kami urungkan karena izin LK baru kami dapatkan pada kemarin,” akunya.

Untuk itu, pihaknya sementara ini bersama Pemkot Surabaya sedang melakukan komunikasi dengan beberapa perusahaan yang akan memberikan bantuan dengan tanpa mencari keuntungan.

“Yang terpenting kami ingin merawat satwa dengan sebaik-baiknya dan menyejahterakan satwa seperti dengan habitat aslinya,” pungkas Fuda. (wh)