Semen Indonesia Bidik Pasar Indonesia Timur

 

Semen Indonesia  Bidik  Pasar Indonesia  Timur

PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) membidik pasar  kawasan  Indonesia bagian timur sebagai bagian dari upaya pengembangan wilayah pemasaran dan peningkatan pendapatan perseroan.

Presdir PT Semen Indonesia Tbk Dwi Soetjipto mengungkapkan pilihan untuk berekspansi ke Indonesia timur   karena cukup besarnya cadangan bahan baku dan potensi pasar semen yang menjanjikan.

“Harga semen di sekitar pelabuhan hanya sekitar 79 ribu rupiah per sak, sedangkan di Jawa 60 ribu rupiah per sak. Tetapi ketika masuk ke dalam Pulau Irian, harga semen hingga Rp 1 juta per sak. Ini semua karena ongkos transportasi yang begitu tinggi, sebab diangkut dengan pesawat,” ujar Dwi Soetjipto kepada pers  di Jakarta, Jumat (19/9/2014).

Secara keseluruhan, permintaan semen di Indonesia dengan hitungan per kapita tergolong masih kecil atau sekitar 232 kg/ kapita. Masih jauh dibawah China sebesar 1.611 kg/kapita, begitupun dibanding Singapura dan Malaysia yang masing masing tingkat konsumsi 1.115 dan 623 kg/kapita. Demikian halnya dibawah Vietnam dan Thailand yang masing masing per kapitas mengonsumsi semen 513 kg dan 487 kg selama setahun.

Berdasarkan data PT Semen Indonesia Tbk, sampai akhir tahun ini diproyeksikan tingkat kapasitas produksi semen sebesar 71,5 juta ton. Kapasitas ini mencakup PT Semen Indonesia (Semen Padang, Semen Gresik, Semen Tonasa) mampu memproduksi 29,5 juta ton, Holcim Indonesia 12,1 juta ton, serta sisanya produsen semen lainnya seperti Semen Andalas , Semen Baturaja, Semen Bosowa, Semen Kupang dan lainnya.

Terkait dengan  pasar semen di  Indonesia timur yang sebelum sebanding dengan  wilayah barat, tidak menyurutkan PT Semen Indonesia untuk berekspansi ke Pulau wilayah Irian, khususnya ke Sorong atau Jayapura.”Kami sekarang sudah punya packing plant di Sorong, itu bisa dikembangkan pabrik kalau memang memenuhi persyaratan,” tuturnya.

Untuk mendirikan pabrik, kata Dwi Soetjipto, hal utama yang harus diperhatikan adalah ketersediaan bahan baku (raw materials) di sekitar pabrik yang harus terjamin dalam beberapa puluh tahun. Selain itu, juta harus didukung dengan kekuatan pasar yang memadahi dan tidak jauh dari pabrik.

 “Saya pikir ini perlu dikaji, dan diperkirakan untuk Irian Jaya dan Sorong bisa dilakukan. Dan tidak kalah penting para konsumen tidak jauh, karena bisa menimbulkan ongkos transportasi yang memicu harga jual tinggi,” paparnya. (wh)