Semen Indonesia Bakal Akuisisi Lagi Pabrik Semen di Vietnam

 

Semen Indonesia Bakal Akuisisi Lagi Pabrik Semen di Vietnam

PT Semen Indonesia  (Persero) berencana mengakuisisi lagi perusahaan semen di Vietnam sebagai upaya menjadi market leader di ASEAN. “Kami sudah satu setengah tahun di Vietnam dan prospek usaha di sini bagus. Sesuai dengan rencana, kami tengah menjajaki kemungkinan untuk mengakuisisi lagi sejumlah pabrik semen di sini,” kata Dirut PT Semen Indonesia Tbk, Dwi Soetjipto dalam presentasinya kepada para pemimpin redaksi media massa Indonesia di Hanoi, Vietnam, Jumat (16/5/2014).

Semen Indonesia juga berencana membangun satu pabrik semen setiap tahun di Indonesia untuk terus memperkuat posisi sebagai market leader. Saat ini, pangsa pasar Semen Indonesia sekitar 45 persen. Dari kapasitas produksi semen nasional sebesar 68 juta ton, produksi semen tahun ini sekitar 64 juta ton, sedang konsumsi nasional diperkirakan 62 juta ton.

Dengan pertumbuhan pembangunan konstruksi, properti, dan infrastruktur transportasi di Indonesia yang cukup pesat, konsumsi semen acap melonjak melampaui produksi. Itu sebabnya, perusahaan semen harus selalu meningkatkan kapasitas produksi, baik dengan memperluas pabrik yang sudah ada maupun dengan membangun pabrik baru. Semen Indonesia kini tengah membangun pabrik baru di Rembang, Jawa Tengah dan Indarung VI di Padang.

Kapasitas pabrik Semen Indonesia saat ini sekitar 31,8 juta ton per tahun, termasuk 2,5 juta ton di Vietnam. Dalam tiga tahun ke depan, kata Dwi, perseroan menargetkan peningkatan kapasitas 10,5 juta ton menjadi 42 juta ton. “Kami berusaha mencapai pertumbuhan 10 persen atau di atas pertumbuhan nasional 6 persen,” ujarnya.

Vietnam diincar sebagai salah satu basis produksi Semen Indonesia di era ASEAN Economy Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN yang dimulai akhir 2015. Vietnam dan Thailand, demikian Dwi, adalah dua negara ASEAN yang saat ini kelebihan pasokan semen, masing-masing 20 juta ton dan 15 juta ton. Sedangkan Singapura, Myanmar, Brunei, Kamboja, dan Laos selalu defisit, sehingga mengandalkan semen impor. Defisit semen di Singapura dan Myanmar masing-masing 5 juta ton per tahun.

“Kami memilih Vietnam karena bahan baku semennya banyak dan berada di dekat pabrik, infrastruktur menunjang, energi juga dekat lokasi pabrik. Vietnam cukup strategis untuk mendukung pemasaran semen ke berbagai negara. Kami malah memasok kebutuhan semen untuk Bangladesh,” ungkap Dwi.

Di setiap sak semen buatan pabrik Thang Long tertulis Semen Indonesia Group.

Seperti diakui Dubes Indonesia untuk Vietnam, Mayervas terdapat puluhan perusahaan semen yang sudah mengantongi izin dari pemerintah. “Lisensi itu hanya sampai akhir 2016. Jika hingga tahun itu belum juga dibangun pabriknya, izin pabrik semen akan dicabut pemerintah. Kami berusaha untuk mengakuisisi perusahaan semen itu sebelum jatuh tempo,” kata Dwi.

Salah satu perusahaan semen milik pemerintah Vietnam yang diincar Semen Indonesia adalah Halong Cement. Dwi mengatakan, ia berminat mengakusisi perusahaan semen ini karena pabriknya di bagian utara Vietnam dan teknologinya dari Jerman. (bst/ram)